Lomba Tujuhbelasan

» » Lomba Tujuhbelasan

Tahun ini memang spesial. Peringatan kemerdekaan negeri kita yang ke-65 bersamaan dengan momen Ramadhan. Namun begitu, tidak mengurangi semangat memperingati kemerdekaan. Tidak saja asal peringatan loh. Sudah menjadi keharusan setiap kegiatan haruslah bisa diambil permaknaannya. Jika nggak, jadinya cuman kegiatan yang tidak ada unsur pembelajarannya. Termasuk dalam peringatan kemerdekaan. Emang sih, peringatannya berupa lomba-lomba. Tapi, lomba-lomba yang bisa digali pelajaran saat siswa-siswa mengikutinya. Semua lomba ini diadakan sehari sebelum libur Puasa, jadinya ya belum puasa dong.

Pertama. ada lomba Makan Krupuk Sambil Duduk. Tidak seperti lomba makan krupuk pada umumnya. Sebelum makan seluruh peserta berdoa bareng. Doa mau makan. Kemudian, krupuk dimakan dengan duduk dan kedua tangan di punggung. Lomba yang diperuntukkan kelas kecil (1 -3) sangat rame peminat. Hingga dalam satu babak penyisihan saja pesertanya sejumlah 40-an anak. Di akhir perlombaan, panitia memberikan permaknaan. Dimanapun, kapanpun, yang namanya makan harus diusahakan menggunakan tangan kanan dan didahului berdo'a. Supaya bernilai ibadah. Setan sangat suka bahkan ikut makan manakala makan dengan tangan kiri, tanpa do'a, sambil berdiri lagi. Makan tanpa bantuan tangan, membayangkan bagaimana saudara-saudara kita yang cacat gak punya tangan. Kita harus lebih bersyukur dikaruniai tangan yang lengkap.

Selain lomba Makan Krupuk, ada juga lomba Lukis Wajah. Wah apa lagi tuh. Nah, di lomba ini, peserta harus melakukan secara kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 peserta siswa kelas besar (4 - 6). Salah seorang harus mengenakan topeng yang membentuk wajah. Tapi wajah itu belum ada mata, mulut maupun hidung. setiap anggota kelompok secara bergantian melengkapi wajah kosong itu menggunakan cat air dalam kondisi mata ditutup. Anggota lain memberikan petunjuk tanpa menyentuh. Jadilah pelukis wajah yang buta mata. Peran penunjuk sangatlah penting, supaya wajah yang digambar menjadi bagus. Karena saking banyaknya yang teriak, cukup membingungkan si pelukis buta. Jadilah banyak wajah yang gak karuan. Matanya dimana, hidungnya kemana. Pelajaran yang bisa diambil. Dalam kerja tim, ketaatan kepada pemimpin menjadi sesuatu yang mutlak. Apalagi untuk sesuatu yang sudah menjadi keputusan bersama. Kita harus selalu bersyukur atas karunia mata sehingga bisa melihat indahnya dunia. Sehingga berempati dengan saudara-saudara yang ditakdirkan cacat penglihatan.

Ketiga, ada lomba tarik tambang. Yang penting untuk lomba ini adalah kekuatan. Meski kompetisinya antar kelas, panitia sudah membuat aturan supaya adil. Setiap tim yang bertanding semua anggota berat badannya maksimal 200 kg. Setiap tim diwajibkan menimbang dulu berat badannya saat mendaftar. Sehingga boleh jadi satu tim kelas 5 hanya terdiri dari 4 anak, sedangkan untuk tim kelas 2 bisa jadi 8 anak. Kekuatan saja tidak menjamin kemenangan. Strategi menahan dan menarik harus jitu juga. Pelajarannya, bahwa kekuatan fisik sangatlah penting. Allah saja lebih mencintai mukmin yang lebih kuat.

Untuk kelas besar, ada lomba Mengisi Air dengan Mata Tertutup. Lomba ini juga dilakukan secara beregu. Satu regu ada 3 anak. Satu anak memegang plastik sebagai wadah air. Satu anak ditutup matanya yang bertugas mengisi air. Sedang satu lainnya sebagai penunjuk jalan. Lomba ini dibatasi waktu sehingga regu yang paling banyak mengisi air, itulah yang menang. Kesigapan dalam memberi petunjuk harus trampil adanya. Ditambah lagi batasan waktu serta menembus rintangan sepanjang lintasan dari sumber air ke wadah masuk perhitungan strategi.

Terakhir, untuk kelas kecil ada lomba Memasukkan Pensil ke Dalam Botol. Lagi-lagi lomba ini dilakukan secara beregu. Untuk membiasakan siswa melakukan segala hal dengan kerjasama. Satu regu terdiri dari 5 anak. Empat anak ditali pinggangnya, dihubungkan dengan pensil. Seorang lainnya sebagai penunjuk. Terlihat, betapa kekompokkan tim harus ada. Anggota yang masih egois, dijamin deh gak bakal berhasil. Naik-turun, maju mundur, kanan-kiri, harus cepat dipahami. Meski masih kelas 1, terlihat sudah cukup kompak dengan petunjuk-petunjuk temannya.

Share

You may also like