Random Post

Parenting Dewan Kelas 3B : Mendampingi Anak Sesuai Fitrah Perkembangan Bersama Heri Maulana, M. Si

Dewan Kelas menjadi forum penting para orang tua. Selain sebagai media komunikasi informasi perkembangan siswa antara guru dan orang tua, Dewan Kelas juga sebagai media untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan dalam mendampingi perkembangan putra-putri para orang tua. Termasuk juga Dewan Kelas 3B periode Oktober 2017 ini. Menu parenting menjadi sajian para orang tua. Topik yang dipilih adalah tentang bagaimana mendampingi perkembangan putra-putri sesuai dengan fitrahnya. Nara sumbernya adalah Bapak Heri Maulana, seorang konselor anak dan keluarga dan juga dosen di BSI.
 Pak Heri mengalawi paparannya dengan menyinggung terkait dengan Genogram. Usaha awal untuk mendampingi putra-putri adalah dengan melakukan observasi dan pemetaan sifat dan karakter. Banyak metode yang digunakan untuk melakukan. Salah satunya dengan ilmu yang disebut Genogram.
Genogram adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memetakan sifat dan karakter keturunan. Ternyata hasil dari riset, anak itu mendapatkan turunan genetis dari orang tuanya, ayah-ibu sebesar 50%. Dari kakek dan neneknya sebesar 25%, lalu dari buyutnya sebesar 12,5%. Sisanya dipengaruhi dari lingkungan serta informasi dari media yang masuk dicernanya. Hal tersebut memperkuat pemahaman mengapa Rasulullah itu salah satu misi pentingnya adalah memperbaiki akhlaq. Serta nasab itu mendapat perhatian yang penting dalam Islam.
   Usia 0 sampai 7 tahun fokus utama yang dilakukan orang tua adalah membangun ikata yang kuat dengan anak. Dan itu yang dibutuhkan anak pada usia tersebut. Kegagalan membangun kedekatan pada usia ini, biasanya pada kasus keluarga yang kedua orang tuanya bekerja. Akan berakibat pada tahap usia selanjutnya si anak agak 'susah diatur'. Mereka cenderung sudah mempunyai figur lekatan yang lain. Baby sitter, kakek, nenek, teman. salah satu upaya untuk membangun ikatan adalah secara praktis dilakukan dengan belaian. Itu alasan mengapa Rasulullah bertanya siapa yang suka mencium anak. Sehingga saat memasuki usia 8 - 9 tahun di waktu tahap memulai kedisiplinan, anak akan lebih cenderung untuk mudah mengalami prosesnya. Pada usia ini kelekatan anak mulai berkurang dikarenakan sudah mulai merasakan indahnya berteman. Kebersamaan anak dengan orang tua itu sebenarnya hanya butuh waktu hingga usia 15 tahun. Karena di usia ini, anak sudah baligh dan harapannya juga sudah aqil, mampu mandiri memenuhi kebutuhan sendiri. Berpikir dewasa menentukan pilihan dan mampu menghadapi konsekuensi pilihan keputusannya.
Satu lagi yang harus dipahami para orang tua. Bahwa sifat itu tidak sama dengan bakat. Bakat adalah sifat yang produktif mampu menghasilkan kemanfaatan terutama nominal uang yang berperan penting di masa depan anak. Karena setiap manusia selain sebagai hamab Allah, Abdulloh, ia juga diberi misi untuk memakmurkan bumi, khalifatullah. Upaya pemakmuran itu dilakuakan dengan peran-peran yang muncul dari bakat anak. Untuk mengetahui bakat anak ada metode yang bisa dipakai menggunakan software yang bisa diklik di www.temubakat.com.
 Jika kita menemukan kondisi anak kita yang terlanjur 'salah asuhan' atas kesalahan kita sebagai orang tua dalam mendidik, ada satu upaya untuk 'instal ulang' program anak kita. Caranya, setiap tengah malam upayakan bangun. Kita belai saat anak kita tidur dan bisikkan ke telinga kiri, doa harapan dengan menyebut nama serta bin ayah, kakek hingga buyutnya. Cara ini untuk mempengaruhi kesadaran dan tentunya doa harapan kepada Allah akan adanya perubahan sikap dan karakter. Kedua, disusul dengan perubahan sikap perlakuan orang tua dalam interaksi dengan anak. Hadirkan sentuhan kasih sayang yang itu akan mempercepat adanya perubahan sikap yang diharapkan.
Share on Google Plus

About Sekolah Alam Jogja

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: