Random Post

Menanam Cabe Keriting


Semester ini ada kegiatan baru untuk pembelajaran outdoor activity. Jika semester yang lalu semarak dengan beternak kelinci, sekarang ditambah lagi pembelajaran berkebun. Untuk pengalaman bagi anak-anak pemula dipilihlah Cabe Keriting. Tanaman yang mempunyai ketahanan hidup lumayan gede. Kalo berhasil panen, tentu jadi duit semua. Untuk lahannya digunakan ladang sebelah timur. Milik pak Agus salah seorang orang tua wali. Ladang itu dibuat gundukan seperti pusara di tempat pemakaman. Membujur panjang. Diatasnya dibungkus dengan plastik hitam yang dilubangi kecil-kecil menggunakan kaleng susu kecil yang dipanaskan. Lubang-lubang kecil itulah media tanaman cabe ditanam. Mengapa? Supaya hidup cabe lebih optimal tidak diganggu kehadiran kompetitor lain seperti rerumutan liar. Satu anak dipercayakan tugas 2 -3 tanaman untuk diamati. Plus, dilengkapi dengan satu lembar pencatatan data pengamatan. Dari mulai waktu kapan menanam dan perubahan yang terjadi setiap pekan sampai berapa jumlah daun dengan tingkat kelebarannya.

Melihat table-tabel di lembar pencatatan, pertama mengundang bingung. Tapi begitu dijelaskan dan dicoba melakukan pengisian data sesuai pengamatan, . . . eh jadi terbiasa deh.
Satu bulan sudah berlalu, meski cukup lama disela waktu Ramadhan tak terkira kini tanaman cabe mulai membongsor. Tak malu untuk menunjukkan hasil buah cabenya. Meski beberapa masih belum beranjak tumbuh. Mati segan hidup pun tak hendak. Tentu hal itu kembali si empunya tugas perawatan dan pengamatan. Indah dan sungguh syukur tak terkira melihat tanaman cabe berbuah. Ih . . . lucu deh, keriting bak rambut kribo. Jadi makin semangat nih melakukan pengamatan.

Menengok kembali apa yang telah dilakukan sehingga menghasil buah yang memuaskan. Untuk kemudian menjadi pengalaman sehingga percaya diri membaginya pada yang lain. Wah, pokoknya panen raya cabe keriting harus terjadi. Apalagi jika krisis global bisa mempengaruhi harga cabe di bursa saham internasional, sepertinya tidak akan ada khayal yang menghalang jika rupiah yang diraup melonjak batas nishob zakat. Yach, . . . bermimpi besar diiringi dengan doa serta ikhtiar maka sempurnalah tawakal kita. Amiin.
Share on Google Plus

About Sekolah Alam Jogja

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

massayyid mengatakan...

asyik belajar berkebun di sdit, di rumah desa sidokarto aku juga berkebun dan memelihara tanaman bunga. ketika masih di godean itu (sekarang di malaysia) ada kebun kecil di belakang rumahku yang pernah ditanami pohon singkong, cabe rawit, tomat, pepaya, jeruk sambal juga sereh. Kalo punya kebun sendiri jadi enak bisa bermanfaat.