Sekolah Alam Nurul Islam

    Ninja Warrior Save The Eggs

    Nyawa penting aktivitas pembelajaran adalah keingintahuan. Manakala semua siswa sudah tumbuh rasa ingin tahunya, maka proses pembelajaran dijamin menekati targetnya. Tapi sebaliknya, sebuah pembelajaran menjadi seakan beban yang membosankan manakala siswa belum menjalaninya dengan motivasi dari rasa ingin tahunya. Sehingga menjai sebuah kewajiban untuk memulai pembelajaran itu dibutuhkan metode atau aktivitas sebagai media untuk menghantarkan masuk pembahasan yang memancing rasa ingin tahu siswa. Memulai tema Gerak, siswa kelas 3 mengikuti kegiatan buka tema yang diberi tajuk game Ninja Warrior Save The Eggs, Ninja Warrior menyelamatkan telur-telur. Apa hubungannya Ninja Warrior dan telur? Nah, judulnya saja sudah memancing ingin tahu kan? :)
      Untuk memulai game ini, anak-anak dijelaskan dahulu aturan mainnya. Setiap anak diharuskan membawa satu butir telur utuh yang dibungkus plastik bening. Telur itu ibarat nyawa bagi para ninja, jika tetap utuh maka selamatlah ninja, namun, jika pecah maka si ninja gagal dalam mengemban misi ini. Mereka bergerak sesuai kelompok. Setipa kelompok menapatkan bahan berupa tali plastik, koran bekas, kotak kardus dan karet gelang. Setiap kelompok dipersilahkan berembug untuk mendesain bentuk alat untuk mengamankan telur. Dikarenakan setiap anak harus membawa telurnya sepanjang perjalanan. Jalur yang harus ditempuh sengaja dipenuhi halangan dan rintangan. Inilah tantangan yang harus diselesaikan oleh setiap ninja.
     Setiap anak harus memastikan telurnya aman dari goncangan dan benturan. Karena setiap ninja akan menyusuri jalur dengan loncat, meluncur, hanyut, mendaki, lari, jatuh. 
    Jalur bahaya pertama, ninja diharuskan untuk melompat ari ketinggian satu setengah meter. Tidak sembarang lompat karena mereka juga harus pikirkan keselamatan telur yang dibawanya.
    Tak kalah menantangnya, jalur ini setiap ninja iharuskan melewati jembatan jaring setinggi 5 meter. Keseimbangan tubuh wajib ada. Setelah itu mereka diharuskan untuk turun melalui tiang pipa dengan meluncur. Bagi yang membawa telur di sakunya, ancaman pecah sewaktu meluncur sangatlah besar.
    Bagian ini tak kalah serunya. Apapun bisa kemungkinan terjadi. Selain basah, mereka juga berjuang melawan arus sungai yang mengalir. Kekompakan tim juga diuji, apakah masing-masing anggota mementingkan keselamatannya sendiri atau bersama kelompok.
    Persis dengan diibaratkan dengan kehiupan ini yang tidak selalu datar terus. Kadangkala harus mendaki yang membutuhkan segenap energi untuk melewatinya. Mereka selain mengangkat dirinya sendiri juga memikirkan telur supaya tidak pecah.
    Selesai menyusuri track, setiap kelompok memeriksa kondisi telur setiap anggota. Keselamatan telur an ketepatan waktu selesai kembali ke tempat akan menentukan kemenangan setiap kelompok. Setelah semua selesai, masing-masing anggota memasak telur dengan menu sesuai selera masing-masing. Apalagi makan siang suah menjelang. Dengan semangatnya mereka masak untuk mendapatkan tambahan lauk sesuai dengan seleranya.
    Kiranya seru sekali acara buka tema kali ini. Harapannya ingin tahunya mulai tumbuh untuk kemudian menjadi bahan bakar pembelajaran selama satu bulan ke depan. 

    Panen Hiroponik dan Masak Omelet

    Proses pembelajaran tidak saja melulu hanya yang dipahami, dihafalkan dan diingat. Tapi sampai pada apa yang dirasakan sehingga menjadi refleksi hidupnya. Menjadi ketrampilan dan sikap yang merupakan kelengkapan dalam menjalani kehidupan keseharian si anak. Oleh karena itu proses pembelajaran akan lengkap saat anak juga melakukan apa yang menjadi pemahamannya. Jika ia memahami bahwa sampah itu kotor dan sumber penyakit, maka ia harus bisa meletakkan sampah pada tempat yang selayaknya hingga menjadi kebiasaan serta sikap. Jika sholat itu dipahami merupakan aktivitas sangat penting, maka anak harus bisa melakukannya dengan benar hingga menjadi kebiasaan yang jika terlambat saja melakukan, tubuhnya sudah bereaksi menandakan rasa bersalah yang sangat.
     Mengajari anak bahwa menjaga lingkungan dengan melestarikan tumbuhan tidaklah cukup hanya dengan hafalan istilah reboisasi, terasering, intensifikasi dan sebagainya. Tapi mereka juga harus melakukan upaya penjagaan lingkungan tersebut. Mereka harus melakukan proses menanam tanaman. Untuk menghadirkan suasana asyik dan gembira dipilihlah kegiatan berkebun. Sekarang ini berkebun tidak harus mempunyai lahan yang luas karena di perkotaan pun sudah berkembang urban farming. Berkebun menggunakan lahan rekayasa. Sebagai contoh metode bertanam hidroponik.
       Ditambah lagi sayur menjadi jamak tidak disukai anak-anak. Begitu mereka ikut merasakan usaha menanam sayur, sedikit demi sedikit bisa ditumbuhkan rasa suka terhadap sayur. Anak-anak dilibatkan langsung menanam tanaman mulai dari bibit kecilnya. Mereka akan merasakan betapa tanaman yang masih kecil itu seperti bayi yang masih lemah, rapuh sehingga butuh kehati-hatian alam memegang dan melatakkan. 
    Setiap hari mereka pantau pertumbuhan tanaman sayuran tersebut. Apakah tumbuh dengan normal ataukah ada yang kurang. Sedihnya hati ini manakala mendapati tanaman sayuran yang melayu, kering dan mati. Rasa empati tergugah dengan melihat tanaman yang menjadi tanggung jawab setiap anak tersebut. Bagi yang mendapati tanaman yang tumbuh membesar dan sehat, rasa gembira ikut memenuhi rasa hatinya. Hingga tak sabar menantikan masa panen tiba.

    Panen sayuran bukan semata dipanen saja. Acara panen massal kali ini akan dilanjut dengan memasak bersama. Menu yang dipilih adalah Omelet. Setiap anak dikelompokkan menjadi beberapa regu. Mereka berbagi tugas untuk membawa perlengkapan masak dan bahannya. Setiap anak memanen tanamannya sendiri, digabung dalam dalam satu kelompok untuk dijadikan Omelet bersama.
    Bagi yang awalnya tidak suka sayur, dengan memasak sendiri ini mereka jadi suka. Apalagi rame-rame. Seakan-akan baru kali itu makan Omelet. Ditambah lagi hiasan masakan setiap omelet yang dikreasi sesuai dengan selera mereka sendiri. Aktivitas masak menjadi menyenangkan. Idealnya memang kegiatan berkebun itu harus terkoneksi dengan kegiatan masak. Kita sudah secara langsung mengajarkan kepada anak tentang pentingnya ketahanan pangan.  

    Workshop Bersama President of National Green School Network America

    Menjadi sebuah kesempatan yang sangat menarik bisa berkesempatan untuk mengadakan workshop dengan narasumber dari luar negeri. Dari Florida Amerika. Bahkan seorang Presiden dari National School Green Network America. Presiden dari Jaringan Green School di Amerika. Dialah Allen Stenstrup. Al, panggilan Allen memberikan workshop tentang School Garden Project di SDIT Alam Nurul Islam, Rabu 9 November 2016.
     Workshop diikuti oleh guru-guru dari level PAUD hingga guru kelas 3 SD. Karena memang workshop ini ditujukan untuk guru-guru kelas awal. Par guru berasal dari 10 sekolah alam di wilayah DIY-Jateng dalam koordinasi Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) Regional DIY-Jateng. Sesuai dengan tema workshop bahwa fokus utama dari pembelajaran yang diberikan guru kepada para siswa adalah tentang konservasi pohon, hutan. Karena pohon dan hutan adalah masa depan kita di bumi ini. Sehingga manakala para siswa kita memiliki kepedulian akan pohon dan hutan, kita sedang menyiapkan masa depan bumi ini dengan baik. Begitu awalan yang disampaikan oleh Al dalam workshop ini. Al sebelumnya merupakan guru yang sudah berpengalaman mengajar selam 40 tahun. Sebelumnya pernah menjadi Managing Director Program di lembaga Project Learning Tree yang konsern pada konservasi hutan. Kini ia mempunyai lembaga 'Our First Garden' yang berfokus untuk menyebarkan pentingnya setiap sekolah di seluruh dunia memiliki program berkebun untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
        Di workshop ini peserta dilatih untuk memberikan pembelajaran kepada siswa dengan aktivitas di luar ruangan. Alasannya, dengan memberi kesempatan siswa untuk kontak dengan alam langsung memungkinkan siswa melakukan observasi langsung secara kongkrit. Menemukan kondisi setiap benda dalam bentuk sejatinya. Anak diasah untuk menemukan, berdiskusi atas temuannya karena kemungkinan persepsi yang berbeda. Seperti saat para peserta diminta membuat kalung dari berbagi bentuk bangun datar. Dengan kalung tersebut peserta diminta mencari benda di luar ruang yang bentuknya persis dengan bentuknya. Atau dengan benda-benda di luar ruangan siswa diajak berimajinasi membuat bentuk hewan.
        Bisa jadi dalm mengenalkan sebuah konsep kepada siswa tidak harus dijelaskan secara lisan. Tapi siswa dilibatkan dengan simulasi langsung yang akan membuat sebuah konsep menjadi riil, kongkrit dan mudah dipahami. Seperti saat Al mengenalkan cara mengajarkan tentang fungsi organ dalam pohon. Semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang memerankan sebagai akar, batang, daun, xilem, floem dengan gerakan khas masing-masing. Siswa tentu akan merasakan langsung dan konsep akan melekat kuat.
       Dengan media pohon, para peserta juga diajarkan bagaimana menghitung diameter pohon dengan mengukur pnjang lingkar batang pohon. Dengan memberikan tanda di setiap pohon, setiap tahun hasil hitungan diameter siswa tersebut menjadi data bagi sekolah dalam memantau keberdaan pohon di setiap sekolah. Ditambah lagi misal observasi terhadap kondisi daun yang difoto dan didokumentasikan tentu data setiap pohon akan menjadi lengkap. Di satu sesi, Al juga memaparkan tentang pentingnya membuat sekolah itu menjadi green school. Al memberikan sebuah poster yang mendeskripsikan bahwa sebuah sekolah itu merupakan green school.  
    Para peserta diminta mengidentifikasi sekolahnya masing-masing, jika dibuat level dari 1 - 10 dimana letak masing-masing sekolah untuk menjadi green school. Tidak masalah kondisi sekolh sekarang, tetapi setiap tahun setiap sekolah harus berubah menuju kondisi ideal green school. Karena green school memberi kesempatan luas kepada siswa untuk belajar secara aktif, atraktif, riil dan kongkrit sekaligus menanamkan sikap peduli kepada kelestarian alam ini.    
    Di akhir sesi, para peserta dikenalkan dengan cara menyemai biji tanaman Pollinator atau pemancing hewn penyerbuk di dalam pot. Dalam satu kemasan terdapat 3 sampai 5 jenis biji tanaman bunga penarik serangga. Keberdaan tanaman pollinator sangtlah penting untuk kelangsungan tanaman supaya secara alami diserbuk dengan bantuan hewan seperti serangga. Al juga menawarkan komitmen bantuna dana bagi sekolah peserta yang diperuntukkan untuk membangun kebun sekolah yang digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa.             


    update :
    Rilis di Kedulatan Rakyat

    Tutup Tema : Pentas Produksi Teater 'Anak Ingusan berSUMPAH PEMUDA'

    Bulan Oktober merupakan bulan yang bersejarah untuk negeri kita. Tepatnya setiap tanggal 28 Oktober peristiwa Sumpah Pemuda menjadi peristiwa penting dalam perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia ini. Untuk memahamkan pengetahuan sejarah dan menanamkan nilai-nilai Sumpah Pemuda, kelas 3 menjalankan pembelajaran dengan tema Sumpah Pemuda. Sudah menjadi rahasia umum, jika pembelajaran menyangkut sejarah pasti dominan berupa hafalan. Tanggal, nama tempat, nama tokoh dan kronologi peristiwanya. Yang suka hafalan untuk menghafal semua itu bukan merupakan masalah. Tapi bagi yang butuh energi dalam menghafal, semua materi itu menjadi beban untuk dipelajari. Supaya siswa senang dan mencintai sejarah bangsa tentu pembelajaran diformat dengan metode yang menyenangkan. Dipilihlah metode teater untuk mempelajari terkait dengan pengatahuan dan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Karena teater pilihannya, produk akhir dari pembelajaran tema ini adalah pertunjukan teater.
    Pentas teater dilaksanakan di gedung Pertunjukan 2 Tejakusuma Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Acara ini bisa terselenggara berkat dukungan penuh para orang tua siswa yang memberikan bantuan berupa finansial dan material. Sehingga anak-anak mampu mendapatkan pengalaman yang kaya melalui pentas teater di panggung teater beneran. 
    Pentas teater tersebut disertai dengan rangkaian penampilan dari beberapa anak yang mempunyai bakat seni. Seperti drummer, biola dan nanyanti. Tidak ketinggalan penampilan ustadz/ah kelas 3 juga turut serta menyemarakkan pentas. Ustadzah Sri dan Tari berduet menyanyikan lagu Gebyar-gebyar. Sedangkan ustadz-ustadznya turut tampil dengan menampilkan lakon 'Londo ndeso' sebagai pembuka pentas inti teater anak-anak. 

     
    Tetaer terdiri 5 adegan. adegan pertama menceritakan kondisi para pribumi yang merupakan bangsa Indonesia yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani mencoba berusaha untuk mempertahankan tanah air mereka dari penjajah. Sejurus kemudian datanglah pasukan penjajah Belanda yang merebut dan terlibat konflik dengan pribumi.
    Adegan selanjutnya berupa perjumpaan noni-noni belanda dengan gadis pribumi. Noni-noni dengan sikap kesombongan meremehkan permainan yang dilakukan oleh gadis pribumi. Pesan penindasan sangat tampak dari adegan ini. Bahwa kapanpun dan dimanapun yang namanya penjajahan tidak pernah akan menghadirkan kebaikan.



    Berkat perjuangan para pemuda yang tergabung dari jong-jong organisasi pemuda senusantara, mereka hingga membuat 2 kali konggres pemuda baru pada satu kesepakatan bahwa : seluruh pemuda senusantara mengakui bahwa bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa yang satu bangsa Indonesia dan, Berbahasa yang satu bahasa Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda tersebut merupakan tonggak penting Indonesia mampu membebaskan diri dari penjajahan yang sudah sangat lama mengungkungi negeri kita tercinta ini.


    update :

    Outbound Periode September - Oktober 2016

    Menjadi media pembelajaran untuk menghadirkan impact sehingga setiap siswa terinspirasi untuk berubah, Outbound harus didesain dengan kegiatan yang menarik, seru, menggembirakan, menantang, dan tak ketinggalan penuh inspirasi sehingga memotivasi setiap siswa untuk berubah menjadi lebih baik. Hakikatnya outbound merupakan miniatur kehidupan. Sehingga manakala kita jumpai permasalahan menyangkut perilaku, kebiasaan, adaptasi, demotivasi dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa membuat terapinya dalam outbound. Dalam outbound bisa dilakukan intervensi kepada siswa dengan reward dan punishment misalnya untuk memunculkan semangat saat mandeg dan bosan.

    Permainan Bersama : Burung Magpay
     Di permainan burung Magpay, semua siswa diwajibkan untuk mengumpulkan barang-barang yang tidak diletakkan pada tempatnya. Barang-barang yang tentunya keberadaannya menjadi sumber gangguan. Besi, pecahan kaca, sampah, batu. Setiap barang mempunyai nilai atau harga. Setiap kelompok berkompetisi mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Dengan batasan waktu setiap anak menyapu bersih lapangan dari keberadaan benda yang tidak seharusnya berada di lapangan. Refleksinya : Segala sesuatu yang diletakkan bukan pada tempatnya (dholim) cenderung menjadi sumber gangguan, apapun itu. Menanamkan cinta lingkungan, menghargai berdasarkan usaha dan jerih payahnya, kepedulian sesama dengan saling membantu dan kemandirian.

    Trusfall Net
      Permainan ini termasuk yang beresiko tinggi. Dilakukan untuk mengukur seberapa kepercayaan diri tiap peserta kepada rekan-rekannya. Setiap peserta menjatuhkan diri ke belakang, sedangkan teman-teman lainnya menangkap bersama menggunakan jaring. Untuk menjatuhkan butuh konfirmasi dahulu antara yang jatuh dan yang nangkap. Yang menangkap pertama mengatakan "siap jatuh?", yang jatuh menjawan "Siap !!" lalu konfirmasi "Siap tangkap?" yang menangkap jawab "Siap !!" Baru menjatuhkan diri. Bagi yang percaya penuh sikap tubuhnya akan jatuh lurus. Tapi, yang masih ragu cenderung pantatnya dahulu yang dijatuhkan.

    Ascending
    Untuk sesi High Impactnya adalah Ascending. Yaitu naik ke atas menggunakan tali dan pengaman. Posisi peserta menggantung, mendaki tapak demi tapak pada tali webbing yang diinstall ke atas bangunan.

     Permainan ini membutuhkan koordinasi antara kekuatan kaki dan tangan. Sebagai kuncinya ada di tumpuan kaki. Jika kaki sudah kuat menapak, maka tangan tinggal mengangkat tubuh ke atas. Sedangkan untuk menahan berat badan tinggal menggantungkan saja pada tali pengaman.

    Permainan Bersama : Penjual Minyak
    Di kegiatan outbound bulan Oktober, permainan bersamanya adalah Penjual Minyak. Minyak tanah bukan minyak wangi. Kunci utama si penjual minyak agar mempunyai kredibilitas yang baik di penjual, dia harus menakar jumlah minyak pas. Tidak lebih dan kurang. Di sinilah kunci permainan ini. Setiap kelompok diminta untuk memenuhi galon mineral dengan air. Setiap anggota kelompok dibekali satu buah gelas. Mereka diminta mengambil air dari sungai di bawah. Semua kelompok berkompetisi untuk mendapatkan yang paling awal memenuhi galon. Bagi yang menuang air ke galon tidak dengan gelas penuh maka akan ditolak. Belum lagi kondisi jalan naik turun dengan berjubelnya peserta. Inilah titik peliknya.


    Air Bridge
    Permainan yang bisa digunakan untuk mengukur tanggung jawab bersama dalam kelompok. Kombinasi antara kekuatan, ketrampilan menyusun konstruksi jembatan dan keseimbangan. Dikarenakan kerja kelompok akan bisa dilihat anggota kelompok yang memegang tanggung jawab penuh dan yang terlihat supaya kelihatan kerja.

    Mini Rafting 

    Pada permainan yang termasuk High Impact ini, nyali peserta diuji. Ditambah lagi aliran sungai yang deras, peserta secara berpasangan melakukan rafting dengan ban truk. Pegangan yang bisa dilakukan hanya dengan pasangannya. Sehingga kerjasama dibutuhkan untuk mengendalikan laju ban.

    Mukhayyam Semester Ganjil 2016

    Bulan Oktober ini adalah jadwalnya kegiatan mukhayyam atau kemah berlangsung. Seperti tahun yang lalu, kegiatan mukhayyam ini dibagi dua. Untuk anggota pramuka SIT siaga, kelas 1 hingga 3 dan anggota penggalang, kelas 4 hingga 6. Untuk anggota siaga dilaksanakan di sekolah, mulai hari Kamis, 13 Oktober 2016 sore hingga Jum'at sore harinya. Sedangkan untuk anggota Penggalang berlokasi di bumi perkemahan Payaman di daerah Argosari Sedayu Bantul. Untuk anggota Penggalang dimulai hari Kamis hingga sabtu pagi.
    Pemilihan lokasi tentu juga mengikutkan pertimbangan tantangan yang akan diberikan oleh setiap anggota Pramuka SIT. Bulan Oktober adalah saatnya memasuki musim penghujan. Turunnya hujan juga ikut menjadi komponen yang akan digunakan sebagai pembentuk tantangan pembelajaran setiap anggota. Target kegiatan mukhayyam ini secara umum adalah untuk membentuk karakter yang mandiri, bertanggung jawab. Kerjasama dengan orang lain, mampu menahan diri dan kemampuan bertahan dengan tantangan dan cobaan yang dihadapi.
     Kemandirian yang dibangun menyangkut aspek ketrampilan hidup dan relijiusitas. Ketrampilan hidup sebagai bekal mereka untuk survive alias bertahan hidup dalam menjalani kehidupan. Dengan menguasai ketrampilan hidup mereka diharapkan akan bisa menyelesaikan kesulitan-kesulitan praktis kehidupan. Setiap masalah praktis akan ditangani dengan baik. Relijius menjadi pondasi yang akan menyertai kemanapun di kehidupan ini berada dan menjadi apa. Sehingga dalam kondisi apapun, longgar, sibuk, kurang-lebih, sulit-mudah, mereka akan senantiasa dekat dan mendekat kepada Pencipta Jagat Raya.
    Tentu bukan semata hanya formalitas kecakapan dan kompetensi pramuka yang dikejar. Harapan jauhnya, peserta mengalami pembelajaran dengan mengalami langsung. Mengalami dan merasakan setiap masalah alami yang muncul. Hujan, masak untuk memenuhi makan, kerjasama untuk menyelesaikan tugas, kenyamanan tidur, lelah, capek. Yang kesemuanya pasti akan memberi bekas yang kuat di dalam setiap pribadi siswa. Membuat lapisan mental yang akan memperkokoh keutuhan jiwanya dalam menghadapi kehidupan di masa depan.

    Buka Tema : Menyimak Cerita Perjuangan dari Veteran

    Bulan Oktober adalah bulan yang mempunyai nilai sejarah bagi bangsa kita, bangsa Indonesia. Tanggal 28 Oktober adalah waktu diperingatinya hari Sumpah Pemuda. Peristiwa tonggak awal kemerdekaan negara Republik Indonesia. Bersamaan dengan momen tersebut, tema pembelajaran siswa kelas 3 juga pas dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Untuk membuka tema pembelajaran, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan nonton film Sumpah Pemuda dan menyimak cerita perjuangan dari nara sumber.
    Para siswa melihat film sejarah singkat terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda. Diawali dari masuknya para penjajah Belanda yang sangat lama melakukan penguasaan terhadap wilayah di Indonesia. Penjajah melakukan pemecahan wilayah dan kekuasaan sehingga kekuatan untuk membebaskan diri dari penjajah tidak berarti. Baru setelah Belanda memberlakukan politik Etis dengan membangun beberapa lembaga pendidikan bagi anak-anak Indonesia serta memberi kesempatan pendidikan ke negeri Belanda, hasilnya, mereka tercerahkan dan menyadari untuk melakukan gerakan membebaskan diri dari penjajahan. Hasil didikan Belanda menghasilkan pemuda yang justru membentuk perkumpulan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra, Jong Bataks dan lain-lain. Mereka berkumpul mengadakan Konggres Pemuda hingga 2 kali kesempatan yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda, sebuah tekad persatuan untuk bergerak bersama membebaskan diri dari penjajahan.
    Selesai menonton film, anak-anak kehadiran tamu dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yaitu lembaga yang mewadahi mantan prajurit angkatan bersenjata republik Indonesia yang telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan RI. Beliau adalah Kapten (Purn) Suwarno. Pak Suwarno bercerita tentang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari awal mula dijajah hingga mampu memproklamirkan diri sebagai negara merdeka.
    Pak Suwarno sewaktu masih aktif sebagai tentara pernah menjalani penugasan ke luar Jawa. Diantaranya ke pulau kalimantan. Program yang dilaksanakan saat itu adalah ABRI masuk desa, untuk mengadakan pembangunan di wilayah-wilayah terpencil. Menyimak terlalu lama memang untuk anak terasa membosankan, sehingga acara dilanjut dengan tanya jawab.
     Begitu dibuka sesi tanya jawab, siswa-siswa langsung segera mengacungkan jari. Namun pertanyaan yang mereka sampaikan unik-unik dan tidak ada hubungannya dengan yang dibicarakan pak Suwarno tadi. Seperti, dahulu bapak pernah kena peluru belum, warna seragam bapak dulu apa, dulu TKnya dimana, polos dan lucu-lucu.
    Unik lagi, di akhir acara setelah ditutup, tanpa diperintah, tanpa ada penugasan, anak-anak meminta tanda tangan pak Suwarno. Bahkan saking banyaknya yang mau minta tanda tangan mereka harus antri memanjang. Rasa nasionalisme memang harus tertanam sejak dini di era global tanpa batas antar negara ini.

    Outing perdana tahun ajaran 2016-2017

    Mengakhiri tema pembelajaran kedua di semester 1 ini, beberapa kelas sudah mulai melaksanakan kegiatan outing. Kegiatan yang bertujuan untuk memberi kesempatan lebih kepada siswa untuk melakukan pengamatan lebih dalam, luas dan kongkrit terhadap obyek pembelajarannya. Karena di outing ini para siswa lebih mudah untuk melakukan observasi langsung, menggunakan panca indra sebagai perangkat pembelajaran karunia dari Pencipta. Untuk mengenal ciptaan-Nya.
     Membawa tema Kerukunan, siswa kelas 1 mengadakan outing ke desa wisata Grogol Godean Sleman. Di sini anak-anak melakukan serangkaian permainan yang seru. Seperti tarik tambang, halang rintang dan beberapa kegiatan lain yang memungkinkan anak untuk melakukan aktivitas yang mengeratkan kerukunan di antara mereka. 
    Setelah selesai melakukan permainan seru, anak-anak bersih diri dilanjutkan sholat Dhuhur berjama'ah. Untuk makan siangnya mereka melakukan santap siang secara bersamaan. Satu tempat berupa nampan besar yang berisi nasi, lauk, sayur disantap bersama untuk setiap kelompok. Kerukunan setiap anak diuji dengan makan seperti ini. yang biasanya selalu mendapatkan apa yang disukai, dengan bersama-sama mereka diharuskan untuk saling tenggang rasa, berbagi untuk tujuan bersama.
      Belajar tema makhluk hidup, siswa kelas 2 melakukan pengamatan langsung berbagai jenis hewan di kebun binatang Gembira Loka. Siswa disediakan obyek belajar yang bervasiasi. Aktivitas menginderai seperti menyentuh, membaui bisa dilakukan. Terkhusus di bagian satwa reptil. Siswa dipersilahkan untuk menyentuh langsung ular Phyton dengan pengawasan petugas dari kebun binatang.
    Mempelajari tema makhluk Hidup dan Lingkungan, siswa kelas 3 mengunjungi WRC, Wildlife Rescue Center. Pusat penangkaran hewan liar yang sebelum dilepas ke hutan secara bebas. Ternyata, banyak hewan liar yang dilindungi oleh undang-undang dipelihara oleh per seorangan bahkan diperjualbelikan secara bebas. hal tersebut tentu makin lama akan berakibat pada keberadaan hewan liar tersebut. WRC dengan luas lahan 14 hektar sebagai lembaga konservasi hewan fokus pada hal tersebut. Di sini siswa sambil mengamati hewan-hewan yang ditangkarkan mendapat penjelasan dari fasilitator WRC. Semua hewan di sini akan dilepas ke hutan liar, di sini mereka sedang sekolah untuk menjadi liar. Aneh ya, kalo manusia sekolah itu supaya beradab, eh hewan-hewan ini sekolah supaya jadi liar. Betul, karena kebanyakan hewan liar itu sudah tidak liar karena dipelihara manusia. Mereka jinak bahkan mempunyai nama jika dipanggil namanya akan menoleh, makan juga sudah disediakan sama pemiliknya. Dengan kondisi tersebut hewan dilepas di hutan tentu dia tidak akan bisa survive mempertahankan hidupnya sendiri.
    Bagi hewan yang sakit akan diobati dan disembuhkan. Untuk yang mati akan dilakukan pembedahan di ruang Incenerator dengan tujuan diketahui penyebab kematiannya. Jika kematiannya diakibatkan penyakit menular jasad hewan mati tersebut akan dibakar untuk menghindari penularan ke hewan lainnya. Para pengunjung sebelum masuk area hewan diwajibkan melumuri badannya dengan lotion anti nyamuk supaya terhindar dari gigitan nyamuk yang merupakan media penularan penyakit. Selama di area satwa pengunjung juga harus tenang tidak diperkenankan melakukan aktivitas yang menarik perhatian satwa bahkan memberi makan satwa. Saat di lokasi kita juga sempat menjumpai 2 orang warga asing menjadi relawan pemelihara satwa di situ. 
     Selesai di WRC perjalanan outing berlanjut ke waduk Sermo untuk mengamati kenampakan alam buatan dan alami. Waduk dengan luas 157 hektar ini dibangun dengan tujuan sebagai penyangga air pertanian di Yogyakarta secara umum dan Kulonprogo khususnya. Selain untuk pengairan, waduk Sermo dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Di lokasi bisa dijumpai beberapa dermaga untuk kapal motor keliling waduk. Beberapa spot untuk foto selfi juga disediakan sebagai bentuk menikmati panorama indahnya waduk.
     Mempelajari tema Makhluk Hidup juga, siswa kelas 4 melakukan outing di pusat peternakan kambing Ettawa di desa Nanggring Turi Sleman. Kambing-kambing ini diternakkan dalam rangka untuk dimanfaatkan susunya yang diproduksi dan dijual dengan tujuan konsumsi rumah tangga. Para siswa berkesempatan untuk melakukan simulasi memerah susu kambing ini. Tentu sangat berbeda dengan memeras susu pada sapi.
    Selain memerah susu, para siswa juga ikut belajar bagaimana mengolah susu hasil perahan kambing ini untuk dimatangkan siap konsumsi. Beberapa perlakuan khusus supaya steril dan awet dilakukan.
    Selesai darai pusat peternakan kambing Ettawa, perjalanan berlanjut ke kantor pemerintah kabupaten Sleman. Siswa belajar terkait dengan tata pemerintahan kabupaten. Di pemerintahan kabupaten mereka mengenal struktur dan fungsi pemerintahan. Mengenal nama pejabat hingga ke wilayah dan penghasilan utama kabupaten Sleman.