Sekolah Alam Nurul Islam

    SARAPAN MATEMATIKA


    Penulis : Siti Nurrochmah, S. Pd. Si.



    Tidak bisa dipungkiri jika saat ini matematika bagi sebagian anak menjadi salah satu mata pelajaran yang paling tidak di sukai. Bahkan ada sebgian anak yang benar-benar tidak menyukai matematika. Tentunya dengan berbagai alasan, diantaranya matematika itu sulit, matematika itu banyak rumusnya, aematika itu angkanya benar-besar dan membuat pusing tujuh keiling, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya. Jika anak-anak ditanya satu persatu pasti akan ada seribu satu alasan kenapa mereka tidak menyukai matematika.
    Karena beberapa alasan tadi maka muncullah mindset anak-anak kalau matematika itu sulit. Mindset itu terus mereka bawa hingga kelas 5, sekarang ini. Sehingga tidak jarang dijumpai sudah kelas 5 tapi perkalian dan pembagian dasar masih belum lulus. Hal ini terjadi di kelas saya (5A). Awal masuk di kelas 5A sebagian besar anak kesulitan dalam perkalian dan pembagian dasar. Padahal perkalian dan pembagian dasar seharusnya sudah harus mereka kuasai di kelas-kelas sebelumnya.
    Hal ini sangat menganggu proses belajar mengajar terutama ketika masuk materi FPB dan KPK.  Anak mengalami kesulihan dalam mengalikan bilangan. Saya pun mengalami kesulitan dalam mengajarkan materi karena sebagian besar anak masih belum lulus perkalian dan pebagian dasarnya. Melihat kondisi tersebut terbesit dipikiran saya untuk memperbaiki perkalian dan pembagian dasar anak-anak terlebih dahulu.
    Kali ini metode yang saya gunakan adalah mengedril anak-anak sebisa mungkin setiap hari untuk mengerjakan soa-soal perkalian yang sudah saya buat (tipe soal pertama). Soal berjumlah 50 soal, dengan waktu hanya 5 menit. Setelah 5 menit berlalu maka selesai maupun tidak selesai anak-anak harus berhenti mengerjakan. Begitu sterusnya hingga beberapa hari dan dengan soal yang sama.
    Soal baru akan di ganti jika sebagian besar anak sudah di anggap lulus tentunya dengan mendapkan nilai yang bagus atau kesalahan tidak lebih dari 5 soal. Setelah di anggap lulus soal akan di ganti dengan tipe soal kedua. Tipe soal yang ke dua masih tentang perkalian hanya saja soalnya di buat sedikit berbeda meskipun masih ada soal yang sama namun letak nomernya di buat berbeda dengan tipe soal yang pertama. Tipe soal yang kedua perlakuannya sama degan tipe soal pertama, dikerjakan berulang-ulang dan dalam waktu 5 menit.
    Setelah tipe soal pertama dan kedua dianggap lulus maka anak-anak akan melanjutkan tipe soal yang ketiga, yaitu tentang pembagian dasar. Tipe soal yang ketiga perlakuannya juga sama degan tipe soal pertama dan kedua, dikerjakan berulang-ulang dan dalam waktu 5 menit. Kami biasa menyebut metode ini dengan sebutan “sarapan matematika”.
    Hari pertama anak-anak mengerjakan soal perkalian dasar hasilnya sungguh luar biasa, hanya tiga anak yang salahnya kurang dari 10, lainya di atas 10 semua bahkan ada satu anak yang salahnya mencapai 46 dari 50 soal. Berati soal yang  dikerjakan dengan benar hanya 4 soal. Karena saya sudah menyampaikan ke anak-anak kalau sarapan matematika ini akan dikerjakan berulang-ulang, maka untuk hari kedua dan seterusnya hasinyal sudah lebih baik dari hari pertama.
    Tipe soal pertama dikerjakan selama 9 hari, dengan hasil di hari kesembilan ada 11 anak yang benar semua, 5 anak salah 1, 1 anak salah 3, 1 anak salah 8, satu anak salah 9, dan 4 anak tingakat kesalahan masih di atas 10 yaitu salah 13, 15, dan 28. Satu lagi ijin tidak masuk karena sakit cacar. Karena hanya tinggal 4 anak yang belum lulus maka tipe soal pertama saya anggap selesai dan akan beralih ke tipe soal yang kedua.
    Di tipe soal yang kedua ini anak-anak sudah semakin lihai, hasilnya juga lebih bagus dari tipe soal pertama. Untuk tipe soal yang kedua ini hanya dikerjakan selama 4 hari. Dengan hasil akhir 14 anak benar semua, 3 anak alah 1, 1 anak salah 2, 1 anak salah 5, 1 anak salah 9, dan 3 anak tingakat kesalahan masih di atas 10 yaitu salah 14, 15, dan 20. Satu lagi masih ijin tidak masuk karena sakit cacar. Karena hanya tinggal 4 anak yang belum lulus maka tipe soal kedua saya anggap selesai dan akan beralih ke tipe soal yang ketiga. Tentunya dengan selalu meyampaikan ke annak-anak untuk selalu mengulang-ngulang sendiri di rumah dengan di dampingi orang tua masing-masing.
    Ketika saya memberikan tipe soal yang ketiga, yaitu pembagian dasar hasilnya masih jauh dari harapan saya. Hanya 3 anak yang benar semua dan 4 anak salahnya kurang dari 10 sisanya kesalahan di atas 10 nomor. Bahkan ada satu anak yang salahnya mencapai 44 dari 50 soal. Tipe soal yang ketiga ini juga dilakukan berulang-ulang. Di tipe soal yang ketiga ini karena saya mengalami kekurangan waktu, maka saya meminta bantuan orang tua/wali murid dengan memberikan soal-soal pembagian dasar ke beberapa anak yang saya anggap masih kurang dan dikerjakan di rumah dengan didampingi orang tua masing-masing tentunya dengan metode yang sama ketika di sekolah, yaitu waktunya hanya 5 menit dan selalu menginformasikan hasilnya ke saya.
    Alhamdulillah dukungan dari orang tua sangat luar biasa sehingga ketika mengerjakan sarapan matematika di sekolah tentang pembagian hasilnya selalu mengalami peningkatan, meskipun masih ada 6 anak yang salahnya di atas 10.  Karena keterbatasan waktu, maka tipe soal ketiga ini saya hentikan. Hasil dari tipe soal ketiga ini adalah 11 anak benar semua, 1 anak salah 2, 1 anak salah 3, 1 anak salah 4, 1 anak salah 5, 1 anak salah 6, 1 anak salah 9, 3 anak salah 11, 1 anak salah 17, 1 anak salah 19, 1 anak salah 26, dan 1 anak tidak beragkat karena sakit.
    Dengan sarapan matematika ini kemampuan perkalian dan pembagian dasar anak-anak semakin mengalami peningkatan sehingga sangat membantu sekali dalam proses belajar mengajar. Sarapan matematiaka ini akan lebih baik jika dilakukan secara terus menerus sampai anak-anak benar-benar menguasainya hingga diluar kepala. Takutnya jika langsung dihentikan anak-anak akan lupa lagi.
    Sleman, 24 November 2018


    Uniknya Murid-Muridku


    By : Apri Hartati

    Sejak tahun 2006 awal pertama bergabung di SDIT Alam Nurul Islam baru sekali saya mengajar di kelas bawah, selebihnya dapat amanhnya di kelas atas. Dan paling lama di kelas 5. Mengajar di kelas atas tentunya siap dengan segala permasalahan anak di kelas sebelumnya. Dengan segala warisan permasalahan dan ketidaktuntasan dalam pembelajaran.
    Berawal dari pembagian tugas mengajar, saya mendapat amanah mengajar di kelas 5A di tahun ajaran 2017/2018 yang sekarang siswanya sudah kelas 6. Saya masih ingat ketika raker saya dan ust Santo dicari ustd Win (ustdnya ketika kelas 4) untuk bertemu dengan salah satu wali murid yang akan menyerahkan surat komitmen/pernyatan kontrak belajar, karena ada salah satu murid yang naik kelas dengan syarat. Bertemulah kami di kelas 1A dengan seorang Ibu yang menceritakan tentang permasalahan anak dan keluarganya hingga terbawa perasaan sampai keluarlah air mata Ibu tersebut.
    Saya baru menyadari ternyata saya mendapatkan amanah kelas yang di dalamnya terdapat permasalah anak (trio anak waktu itu Faqih. Fauzan dan Rafi) yang belum terselesaikan. Langkah awal saya mencari informasi tentang permasalah ketiga anak tersebut melalui ust ustd di kelas sebelumnya dan ustd Nanda sebagai psikolog sekolah. Bersama ustd Nanda, kita membahas langkah-langkah dalam menuntaskan permasalahan ini mengingat mereka sudah kelas 5 yang akan naik ke kelas 6 yang nantinya akan lebih focus ke akademik. Akhirnya kita sepakat untuk menuntaskan permasalah ini di kelas 5.
    Selanjutnya kita mengundang orantua dari siswa tersebut. Waktu itu di aula saya, ust Santo, ustd Nanda dan Ibu dari ketiga siswa tersebut. Di awal ust Santo menyampaikan maksud diadakannya pertemuan, kemudian ustd Nanda menyampaikan hasil tindakannya sebagai psikolog waktu dikelas 4, selanjutnya satu persatu tiap Ibu menyampaikan kelebihan, permasalahan dan harapannya  tentang putranya masing-masing. Suasana menjadi haru karena tetesan air mata dari Ibu-Ibu tersebut. Setelah pertemuan ini selesai ternyata Ibu-Ibu masih ingin berbicara lebih lanjut dengan ustd Nanda. Kemudian kami membuat grup Whaatsap.
    Di grup whaatsap inilah komunikasi kami makin lancar, apapun permasalahan, perkembngan anak kita sampaiakn di grup. Selanjutnya kita menjalankan program homevisit. Perlu waktu hampir 2 pekan untuk saya membuat janji dengan Ibunya mas Fauzan (perawat) hingga akhirnya sampailah saya di rumah mas Fauzan. Didapat informasi bahwa selain ikut SSB, mas Fauzan juga les di  waktu sore semiggu 3x. Terlihat dari hasil evaluasi nilainya meningkat. Mas Fauzan jadi tambah percaya diri apalagi setelah saya mendapat info dari ustadz Suwandi  (ust yang mengajar ekstra adzan) bahwa Fauzan adzannya bagus. Tapi masih belum PD ikut lomba adzan.
    Kemudian beralih ke mas Faqih. Di kelas 5 mas Faqih masih sering datang terlambat dan tidak mengerjakan tugas-tugas. Ada saja alasannya, setelah dikomunikasikan dengan orangtua memang alasannya kadang benar kadang mengada ada. Mas Faqih tipe anak yang keras, kalau dimarahi malah cuek. Dengannya harus tenang, dielus kepala atau punggungnya kemudian diajak bicara, baru dia mau mengungkapkan kemauannya. Secara akademik bagus, hanya saja dia suka sibuk sendiri ketika belajar di kelas, sehingga tidak paham, kemudian saya harus menjelaskan secara individu dengannya baru dia paham.
    Terakhir mas Rafi, ini anak yang paling unik, menggemaskan dan lucu. Dengannya nggak bisa marah, adanya malah ketawa terus. Secara akademik sangat berbeda dengan teman-temannya, setiap evaluasi pasti perbaikan karena banyak soal yang kosong tidak diisi. Ketika belajar di kelas sering tidur, kadang tidur pura-pura kadang tertidur benar. Kalau saya bilang, mas Rafi ustd foto ya dikirim ke Ibu. Kalau tidurnya pura-pura pasti langsung bangun. Sholatnya juga belum 5 waktu terutama Isya dan Subuh. Qiroatinya juga masih jauh tertinggal. Seperti tidak ada motivasi dalam belajar di sekolah, tapi sangat semangat ketika bermain bola. Kesamaan ketiga anak ini memang dalam hal sepak bola. Dan mas Rafi ini sudah mulai suka dengan lawan jenis. Inilah dinamika anak-anak di eklas atas. Pernah suatu hari ia memberikan coklat kepada anak putri, tapi melalui temannya karena ia tidak berani. Pernah juga meminta temannya menggambar dua anak putra putri yang saling suka dan diberi nama teman sekelasnya.
    Saya diskusikan hal ini dengan ustd Nanda, hasilnya adalah akan diadakan tes psikologi untuk mas Rafi. Kemudian saya home visit ke rumahnya. Lucunya ketika saya menanyakan mas Rafi di mana. Ibunya bilang nggak ada di kamar, mungkin ke tempat simbahnya. Nggak sengaja mata saya melihat bayangan di balik tirai jendela kamar seperti ada bayangn. Saya bilang ke Ibunya. E… ternyata waktu dilihat di kamar mas Rafi sembunyi di balik pintu, kemudian mengintipku lewat tirai jendela. Lucu sekali memang anak ini Saya jadi ingat waktu dulu homevisit di rumah muridku Didin namanya. Selama saya di rumahnya kurang lebih satu jam. Didin sembunyi di dalam lemari baju dengan membawa senter. Kemudian Ibunya banyak bercerita mengenai mas Rafi yang belum berani tidur sendiri, ke kamar mandi sendiri bahkan sholat sendiri. Mau tidur di kamarnya sendiri asal ada TV dan banyak hal lainnya.
    Akhirnya kita sepakati beberapa hal yang akan kita lakukan. Pada intinya kita menargetkan SIP nya dulu bukan akademiknya. Terutama sholat 5 waktunya dan BTAQ nya. Dibuatlah muthabaah khusus untuk mas Rafi. Dan dicarikan ust untuk mengajar BTAQ tambahan ( dengan ust Imam). Hasi tes psikologi sudah ada maka diadakanlah konsultasi dengan kedua orangtuanya. Di sinilah yang paling susah, untuk menentukan waktu pertemuannya.
    Dari ketiga anak ini dan orangtuanya saya belajar banyak hal.
    1.       Orang tua sangat memanjakan anaknya dengan memberikan semua keinginannya tanpa syarat atau perjuangan sebelumnya dengan alasan kasihan teman-temannya juga sudah punya.
    2.       Orangtua langsung percaya cerita dari anaknya tanpa mencari kebenarannya, padahal kadang anak berbohong  pada orangtuanya untuk mencari posisi aman
    3.       Kedua orangtua kerjasama dalam mendidik anak, karena pendidikan anak adalah tanggungjawab kedua orangtua bukan hanya tanggung jawab Ibu saja
    4.       Dengan homevisit saya mendapatkan lebih banyak informasi tentang siswa, sehingga saya bisa lebih memahaminya.




    Guru Pembelajar


    Oleh : Laila Rohmawati
    Guru, salah satu profesi yang sebagian banyak orang menjadi pilihan cita-cita. Ada berbagai motivasi bagi seseorang memilih bercita-cita menjadi guru seperti ingin beramal jariyah, karena suka dengan anak-anak, dan lain sebagainya. Apapun motivasi seseorang menjadi guru maka dia harus mempunyai kemampuan mendidik dan mengajar. Kemampuan mendidik dan mengajar itu tidak mudah, perlu dipelajari dan dipahami secara terus menerus.
    Menjadi guru sudah menjadi keinginan saya sejak tahun 2010, setelah lulus dari SMA, saya langsung melanjutkan studi kuliah di UII mengambil Jurusan Pendidikan Agama Islam di Fakultas Ilmu Agama Islam. Keinginan menjadi guru muncul karena saya berpikir bahwa menjadi guru itu menjadi amal jariyah bagi anak didik. Alhamdulillah, sebulan setelah lulus dari Universitas, saya mencoba mendaftar menjadi guru di SD IT Alam Nurul Islam. Sebelum mendaftar di SD IT Alam Nurul Islam saya pernah menjadi guru pramuka di berbagai sekolah dasar. Untuk pengalaman mengajar memang saya akui belum begitu banyak walapun sewaktu kuliah berbagai praktek mengajar saya lakukan.
    Tahun 2015, sebulan setelah wisuda saya diterima guru di Nurul Islam setelah melakukan beberapa seleksi. Tahun pertama mengajar penuh dengan tantangan. Sekolah yang berciri khas alam ini menunjukan perbedaan dengan sekolah dasar yang lain. Sekolah dasar pada umumnya mempunyai ruang kelas yang tertutup, ada jam-jam tertentu untuk masuk kelas dan istirahat, namun berbeda sekali dengan Nurul Islam. Kondisi ruangan yang terbuka, aktivitas anak yang sangat aktif dan lain sebagainya. 3 bulan pertama saya merasa kewalahan mengajar di Nurul Islam dengan segala aktivitas, kemudian 3 bulan berikutnya saya merasa ingin menyerah di Nurul islam. Beberapa hari saya diminta oleh partner kelas untuk mengkomunikasikan kepada Kepala Sekolah terkait keadaan yang saya alami. Namun saya mengurungkan diri, dan berpikir kembali bahwa saya tidak akan menyerah menjadi guru di Nurul Islam. 1 semester menjadi pengalaman yang tidak pernah saya lupakan, karena di saat itu saya sendiri sedang melawan rasa menyerah menjadi guru.
    Setahun berlalu, saya mulai menikmati menjadi di Nurul Islam dengan segala pembelajaran dan kegiatan. Saya semakin mulai memahami karakter anak-anak, mulai mengerti dengan perlakuan apa yang harus diberikan bila anak didik melakukan kesalahan dan lain sebagainya. Benar bila ada pepatah yang menyampaikan bahwa pengalaman adalah guru yang sangat berharga karena dengan pengalaman setahun itu saya bisa menjadi lebih baik dalam mengajar anak-anak. Teori-teori yang dulu saya pelajari sewaktu kuliah hanya sedikit yang saya praktekkan ketika mengajar. Justru ketika mengajar langsung saya semakin banyak belajar tentunya belajar dari guru yang lain dan dari anak-anak.
    Tahun ini tahun keempat saya di Nurul islam. Tahun pertama saya mendapat amanah mengajar di kelas 2, tahun kedua saya mendapat amanah lagi di kelas 2, tahun ketiga saya mendapat amanah di kelas 3 dan tahun keempat  ini saya mendapat amanah mengajar di kelas 1. Sewaktu mendapat amanah mengajar di kelas 1 saya senang karena mereka masih baru di Nurul Islam jadi akan lebih mudah mendidiknya. Pertemuan awal dengan anak-anak kelas 1 membuat saya harus mengenal 28 anak dengan karakteristik yang berbeda. Ada anak yang setiap harinya usil dengan teman-temannya, ada yang suka bertanya, ada yang susah diberitahu dan lain-lain. Memang pada tahun sebelum-sebelumnya saya sudah menemui berbagai karakter anak yang berbeda maka dari itu dari pengalaman sebelumnya saya bisa mengatasi anak-anak di kelas 1.
    Mendidik dan mengajar di kelas 1 itu sebenarnya sangat menyenangkan. Selain mereka masih lucu-lucu karena baru lulus dari TK, mereka juga masih baru di SD sehingga menanamkan aturan sangat mudah. Dari ilmu mendidik yang pernah saya pelajari untuk kelas 1 sangat penting untuk menanamkan kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada Rasul dan kecintaan terhadap Adab. Anak-anak yang di didik seperti itu maka ia akn menjadi pribadi yang sholih. Pribadi yang ketika besar tidak hanya cerdas pikiran tetapi juga cerdas dalam menjaga adab. Seorang guru pasti mempunyai keinginan bahwa anak didiknya ketika tumbuh besar menjadi anak didik yang menjunjung tinggi adab, yang berakhlak mulia, yang kepintarannya tidak membuatnya sombong justru kepintarannya dapat menjadi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
    Guru, profesi yang menuntutnya harus terus belajar. Ya, memang dan harus seorang guru itu terus belajar, belajar dan belajar. Melalui media apapun, mau itu seminar, workshop, membaca buku, membaca referensi internet dan lain sebagainya karena yang namanya guru itu pasti akan bertemu dengan karakter anak yang berbeda. Apalagi bila mengajar di Nurul Islam yang setiap tahunnya guru di rolling untuk mengajar kelas yang berbeda dari tahun sebelumnya.
    Tahun ini saya pun masih belajar, belajar menjadi guru yang lebih baik lagi. Tidak hanya dengan teori, dengan pengalaman tetapi juga menghadirkan hati. Hati yang lembut, yang mendidik dengan kasih saying karena nasihat yang baik lahir dari hati yang tulus maka akan sampai pada anak didik, pun sebaliknya hati yang keras tidak akan sampai nasihatnya kepada anak didik. Semoga dengan terus belajar membuat kita semakin lebih baik dalam mendidik anak-anak. Aamiin.



    Outbound Perkuat Karakter Siswa


    Penulis : Jauharotul Farida, S.Pd.Si



    Sudah sejak kemarin dapat pesan dari salah satu wali murid, jika anaknya mogok tidak mau ikut outbound. Kita sebut saja siswa R. Alasannya seperti kebanyakan siswa kelas satu yaitu takut. Dua kali kegiatan outbound, siswa R ini memang selalu menangis. Outbound pertama di bulan Agustus, permainan high impactnya adalah panjat dinding. Saat itu adalah pengalaman pertama semua kelas satu SDIT Alam Nurul Islam mengenal outbound di sekolah. Siswa naik dinding dengan memakai alat pengaman. Saat itu siswa R belum terlihat mau nangis dan masih enjoy. Satu panjatan batu di dinding berhasil dilalui, dan .... huaaaaaa, meledaklah tangisnya saat diminta naik ke panjatan batu yang kedua. Awalnya pelan tangisnya, lama kelamaan semakin keras dan ketakutan. Mamanya dipanggil panggil. Akhirnya permainan itu diselesaikannya, meskipun setelah dibantu instruktur sedemikian rupa. Menangis? Ya jelas tambah keras ... tapi dia jadi tahu bahwa pantang menyerah jika sudah naik. Outbound kedua bulan September, high impactnya adalah turun tebing. Siswa R ini lagi lagi menangis keras. Kali ini lebih keras nangisnya, karena harus turun menggunakan tali dari ketinggian tertentu. Hal yang sama terulang seperti outbound pertama yaitu menangis dan memanggil mamanya. Instrukturnya harus menunggu lama dan membujuk sedemikian rupa. Akhirnya mau tidak mau diturunkan paksa dengan pengamanan tertentu, meskipun tetap saja menangis. Dan kemarin muncullah pesan dari mamanya, bahwa anaknya mogok ikut outbound. Bukan masalah jatuh atau terluka, tapi ketakutan menghadapi permainanlah yang membuatnya enggan berangkat. Nyalinya masih belum muncul dan ketakutan dari rumah masih mendominasi. Saat mamanya menyampaikan pesan tersebut, saya mencoba memberi motivasi bahwa besok outboundnya menyenangkan yaitu berenang di sungai. Siswa R ini  mulai berbinar matanya mendengar kata berenang. Akhirnya hari outbound ketiga (bulan Oktober) pun tiba. Siswa R sudah mau berangkat. Saat instruktur menyampaikan bahwa permainan outboundnya adalah ke sungai, ia  mulai tambah percaya diri. Dia mau mengikuti permainan low impact (karapan sapi) dan fun game (sarung beralih) dengan baik. Bahkan mau ditunjuk jadi pemimpin.
    Beda lagi kasusnya dengan siswa kelas 1c juga, kita sebut saja Princess. Pertama kali mengikuti outbound Princess dihadapkan pada permainan high impact panjat dinding. Ketakutan luar biasa membuatnya menangis dan ngambek tidak mau ikut outbound lagi. Saya pikir, pasti di outbound kedua nanti juga sama. Princess akan nangis dan takut. Ternyata kenyataannya berbalik 180 derajat. Tidak ada lagi tangisan dan ketakutan. Princess terlihat selalu tersenyum, berani, dan enjoy saat mengikuti permainan high impact yaitu turun tebing. Begitupun di outbound yang ketiga, Princess mampu bergelayutan di ban bekas yang digantung di bawah jembatan. Katanya ke saya, “aku sudah nggak nangis lagi kan ust?” wah anak hebat. Mampu menaklukkan ketakutannya sendiri. Setelah saya telusuri, ternyata dia tidak mau dikatakan cengeng oleh teman temannya. Pengalaman pertama saat mencoba panjat dinding, ada teman yang mengatainya cengeng. Akhirnya di outbound yang kedua dia buktikan jika dia tidak cengeng. Disamping itu, bentuk permainan outbound yang menyenangkan membuatnya suka dan enjoy hingga akhir kegiatan.
    Pengalaman selama 8 tahun saya mengajar di SDIT Alam Nurul Islam, outbound adalah kegiatan rutin yang harus diikuti oleh semua siswa. Mulai dari kelas satu hingga ke kelas selanjutnya. Kelas satu adalah level kelas yang kebanyakan siswanya masih awam dengan kegiatan outbound. Tak jarang dijumpai siswa kelas 1 yang takut, menangis, dan belum mandiri. Baju ganti harus sering diingatkan untuk diberi nama supaya tidak tertukar, memakai baju pun harus sering didampingi karena beberapa anak masih belum bisa pakai sendiri, begitu juga saat semua selesai mandi, para guru harus menyisir barang apa saja yang tertinggal dan mencari pemiliknya. Alhamdulillah melihat mereka di kelas 6, semua itu sudah berubah. Siswa yang penakut di kelas satu sudah jadi pemberani sekarang. Siswa yang dulu cengeng sudah tidak mudah nangisan lagi. Siswa yang suka teledor dengan barang barangnya sudah tampak rapi dan telaten dengan barang miliknya sendiri. alhamdulillah
    Seperti halnya kakak kelasnya yang sekarang sudah lulus, kita sebut saja mas V. Ia termasuk siswa yang mudah menangis dan takut mengikuti kegiatan outbound. Tapi seiring berlalunya waktu dan keharusan mengikuti outbound di level kelas selanjutnya, ternyata kenyataannya berbeda. Mas V bukan lagi anak yang cengeng, tapi berubah menjadi anak yang pemberani dan tidak pantang menyerah.   
    Begitu juga kakak kelas lainnya, kita sebut saja mas B. Dulu di kelas satu, mas B ini terkenal anak yang tidak mau pisah dengan mamanya saat diantar ke sekolah. Hampir satu semester dia selalu ditunggui mamanya di pagi hari. Outbound jarang mau ikut. Alasannya takut. Di semester kedua mulai mau ditinggal mamanya, meskipun dengan acara perpisahan sedemikian rupa. Barulah mau masuk ke kelas setelah mama tak terlihat lagi di kejauhan. Alhamdulillah kegiatan outbound sudah mau ikut. Meskipun awalnya cuma nonton.  Teman dekatnya mas B saat itu adalah mas H. Dua anak ini punya tipe yang berbeda sebenarnya, tapi klop satu sama lain. Awalnya sama sama tidak mau outbound. Lama kelamaan mereka mencoba dan suka. 
    Dalam satu kegiatan outbound, ada 4 kegiatan yaitu fun game, low impact, high impact, dan kepanduan. Fun game adalah kegiatan pra outbound untuk memecah ketegangan dan membuat siswa enjoy memasuki permainan outbound selanjutnya. Jika fun gamenya menyenangkan bagi siswa maka siswa akan enjoy untuk kegiatan selanjutnya. Di kegiatan ini memupuk kerjasama/team work, konsentrasi, memahami perintah, dan lain sebagainya.
    beberapa contoh fun game yang sudah dilakukan adalah permainan guru berkata. Dalam permainan ini siswa diminta untuk melakukan perintah asalkan ada “embel-embel” kata di depannya “guru berkata – silakan lakukan ....berikut”. nah barulah siswa melakukannya. Jika tidak ada “embel-embel” kata di depannya “guru berkata ....” maka siswa tidak boleh melakukan sesuatu atau diam saja. jika bergerak maka dapat coretan. Banyak siswa yang masih belum konsentrasi  dalam hal ini. Setelah melalui beberapa tahapan akhirnya yang kena coretan semakin berkurang. banyak siswa yang beberapa kali terkena coretan di pipi oleh instruktur. Disamping masih suka ngobrol sendiri, juga kadang belum memahami perintah dengan baik.
    Fun game lainnya yang pernah dilakukan yaitu permainan sarung beralih. Permainan ini melatih kerjasama tim, ketangkasan dan pantang menyerah. Siswa diminta untuk membentuk lingkaran besar dan saling bergandengan tangan tidak boleh putus. Ada satu sarung yang ditaruh disalah satu siswa. Sarung ini harus dapat berpindah/beralih dari satu siswa ke siswa lainnya dan tidak boleh putus pegangan tangannya. Ada juga siswa yang termasuk lama dalam memindahkan sarung ini ke temannya. Sarung malah terkesan muter muter aja di tubuhnya. Teman temannya geregetan karena waktu hampir habis. Akhirnya siswa ini pun dapat menyelesaikannya dengan tuntas. Alhamdulillah
    Outbound yang meyenangkan akan diikuti oleh siswa dengan enjoy pula. Karakter siswa juga sedikit demi sedikit terbentuk dan semakin kuat. Yang awalnya takut jadi pemberani. Yang awalnya belum tangkas jadi trengginas. Yang awalnya belum mandiri jadi mandiri. Memang itulah harapan kita semua. Siswa terbentuk karakternya melalui outbound yang menyenangkan









    Mata Kuliah Baru


    Penulis : Siti Khatijah, S.Pd



    Mencoba menggali kembali kenangan itu. Saat pertama kali aku mulai menapaki karir dalam dunia kerja.
    ***
    11 September 2011 kali pertama aku menggunakan baju serba hitam dan topi segi lima dikepala dengan seutas tali berumbai menjuntai di salah satu sisinya. Feel amazing, that day...  when the sky so blue I graduated my college. Tentunya dengan ditemani keluarga dan sahabat menambah syahdu suasana upacara wisuda hari itu.
    ***
    Mencari pekerjaan adalah episode baru dalam hidupku. Berbekal seperangkat surat lamaran dan “ubo rampenya” ku datangi beberapa sekolah untuk “belajar” lagi menjadi seorang guru. Sampai tibalah aku di sekolah ini, berkat info dari kawan lama di SMA.
    Mendapat titel “Bu guru” saja belumlah layak untukku apalagi mendapat titel “Ustadzah”. Surely, I felt unconfident every single day. Mungkin kala itu, perasaan serba salah menjadi “new comer” tersirat jelas diwajah ini hingga salah satu Ustadzah senior di sekolah ini menggandeng tanganku dengan hangatnya. Mengantarku ke kelasnya dan memperkenalkan kepada siswa-siswa di kelasnya. Kelembutannya mencairkan suasana. Kesan pertama, dia adalah Ustadzah yang sangat baik.
    3 hari menjalani observasi di sekolah ini, aku merasa kagum dan damai. Setelah mengantungi restu orangtua, akupun setuju untuk menandatangani kontrak mengajar dengan TMT 17 Oktober 2011. Akupun siap “belajar” di sekolah ini.
    ***
    Mata Kuliah “Buka-Tutup Kelas”
    Ustadzah Ana- my first partner , Ustadzah Rusmi, Ustadz Hermanu, Ustadzah Ida, dan Ustadzah Uul. Mereka adalah tim Asatidz dalam satu rombelku di kelas Dua. Uniknya, diantara kami berenam hanya Ustadzah Ida-lah yang sudah berkeluarga  dan sisanya belum. Dengan bantuan tim ini aku mulai belajar banyak “mata kuliah” baru.
    Mendapati istilah “buka kelas” dan “tutup kelas” sangatlah baru bagiku. Mengawali pagi dengan memberi semangat belajar kepada siswa dan menutup sore dengan pemaknaan belajar kepada siswa adalah praktik belajar yang belum pernah aku dapati di bangku kuliah sebelumnya. Very Impresif, I wonder.
    ***


    Mata Kuliah “Meluncur”
    Membersamai siswa kelas bawah membutuhkan porsi pendampingan dan pengawasan yang lebih besar dibanding kelas atas tentunya. Mengingat tingkat kemandirian mereka yang belum sempurna. Pada masa itu, Ustadzah Ana berpesan “Besok kita renang ya Ust, jangan lupa bawa baju ganti”. Alamak, baju renangpun aku tak punya. Setelah berhasil “mengadul-adul” lemari, tibalah keesokan paginya dengan kaos putih, jilbab kaos dan celana trening.
    Kegiatan renang diawali dengan berlari mengitari kolam sebanyak 3 kali. Kemudian masuklah anak-anak ke dalam air yang belum tercelup hangatnya sinar matahari itu. Untuk memotivasi siswa yang belum bisa berenang maka kami semua wajib nyemplung untuk memberi contoh dan menjaga mereka saat berada di dalam air. Satu-satunya gaya berenang yang aku miliki saat itu hanyalah gaya batu. Membirulah bibir dan wajahku di pagi itu, saking “lihai”nya aku berenang. Pertemuan renang berikutnya, tersulut motivasi untuk bisa berenang, bertanya kepada teman adalah jalannya.
     “Meluncur” adalah teknik pertama yang harus bisa dikuasai sebelum berenang. Pertama, berdiri dalam air dengan satu kaki di tepi kolam,  sedangkan kaki yang lain menempel di dinding kolam. Kedua tangan direntangkan ke depan. Ambil nafas, lalu tolakkan kaki yang menempel di dinding sebagai gaya dorong untuk meluncur. Secara teori kurang lebih begitu, secara praktek? Sempat trauma dengan meminum air, gelagepen, dan kehilangan keseimbangan. Give up? Yes... but curious? Yes...
    Hingga saat aku coba membenamkan diri di dalam air, dan aku membuka mata. Ternyata, kita tidak bisa menyentuh dasar kolam. Mencoba benamkan lagi, maka akan terangkat ke atas lagi. Hey, ternyata benar kata Ustadzah Nisa. Ketika diam saja di dalam air, kita tidak akan tenggelam, kuncinya tenang.
    Sangat penasaran dengan teknik meluncur, ku coba untuk menenangkan diri. Mengambil nafas dalam-dalam, ku hentakkan kakiku sekuat tenaga. “Sluuuussssssh....” ku buka mataku, ku amati tubuhku mengapung di atas air. Keramik yang ada di dasar kolam terlewati satu, dua, tiga, dst. Hey, aku meluncur! J
    ***
    Mata Kuliah “Mecucu-Meringis”
    “Laatarkabunna thobaqon an thobaq..... “ ku lafadzkan saat mengisi tahfidz anak-anak kelas dua kemudian mereka setor satu per satu.
    Jam istirahatpun tiba. Aku kembali ke ruang Ustadzah untuk minum dan makan jatah snack hari itu.
    “Mau sek mulang tahfidz neng kelas loro sopo yo?” tanya Ustadzah qiroaty.
    Akupun menyimak. 
    “Kok bacaane kleru yo, latarkabunna ki ra oleh di woco laatarkabunna. Nek “La” maknane sungguh nek “Laa” maknane jangan”.
    Alamak (tepok jidat), aku tersangkanya. Malu-malu aku ceritakan kejadian itu kepada Ustadzah Ana. Aku menyesal, karena bacaanku keliru. Ustadzah Ana, menasehatiku sebaiknya ikut les qiroaty kepada Ustadzah Qiroaty untuk memperbaiki bacaanku.
    Menghadap “The master of Qiroaty” sangat menegangkan. Perawakannya besar, suaranya lantang dan tatapannya... wow. Aku merasa begitu kerdil. Usut punya usut “The master of Qiroaty” di sekolah ini dulu adalah mantan atlit kempo. Wow, can you imagine that?
    “Ustadzah, maaf saya takut.... hehe... J
    “Takut apa?” jawabnya.
    “Takut salah ust, hehe J
    “A udzubillahiminasyaithonirrojiim”
    “bukan A u! A ‘u!” sanggahnya.
     “Setiap huruf itu punya haq. Haq huruf diucapkan sesuai tempat keluarnya huruf (Makhrojul huruf). Ada huruf yang dibaca “mecucu” misalnya sho, kho, tho, zo. Ada huruf yang dibaca “meringis” misalnya sa, tsa, dan za”. Terang beliau tegas.
    ***
    Mata Kuliah “Mengikat Jarik”
    Melewati beberapa tahun di sekolah ini, membawaku kepada episode “emak-emak jaman now”. Dengan dalih menjaga eksistensi diri tetap kujalani peran sebagai ibu berkarir. Kelahiran putri pertama di usiaku yang saat itu 23 tahun, menyisakan PR besar bagiku. Bisa dibilang, aku kurang ilmu. Aku belum setangguh kawan-kawan Ustadzah lain yang menggendong bayi merahnya ke sekolah dengan berkendara motor. Putri pertamaku pun tumbuh dalam asuhan Yangtinya hingga usia 17 bulan. Sudah saatnya dia “sekolah”.
    Gendongan Kangguru, gendongan sling, gendongan jarik, semuanya ku coba. Mana yang paling efisien dan nyaman untuk membawa putriku. Hari pertama, kucoba menggendong dengan gendongan sling lalu jaket besar sebagai penahan kepalanya jika ngantuk.
    Alamak, di setiap beberapa meter mlorot-mlorot terus kepalanya. Aku harus memperbaiki gendongan lagi dan lagi. Sampai saking gemesnya, ku kemudikan motorku dengan satu tangan sedang tangan yang lain menahan kepalanya yang mengantuk. What a rempong day! Fyuuh...
    Hari berikutnya ku coba menggendong dengan menggunakan jarik. Dengan bantuan Yangti, ku gendong dengan suwelan belakang. Saat akan pulang, susahnya mencari “suwelan” belakang itu sampai “gembrobyos” baru bisa nemu itupun ndak kenceng ikatannya. Fyuuuh.... susahnya nak! Dengan bantuan Bu Dapur, baru akhirnya aku bisa mengikat jarik dengan “suwelan belakang yang kencang”. Repotnya membawa baby ke sekolah membuatku enggan mengajaknya lagi “bersekolah”. Menyebabkan datang terlambat, dan rempongnya itulah yang menjadi alasan utama.
    Hingga suatu hari ada seorang Ustadzah yang membawa babynya sambil berkata “Ini namanya cara menggendong praktis, cukup diikat saja seperti tali depan”.
    Mengikat jarik dengan tali depan, dengan style ini ku coba membawa kembali putriku ke sekolahnya. Simpel, nyaman, dan kencang. We did it!
    ***
    Dalam setiap doa, ku memohon kepadaNya untuk memberikan kekuatan dan kemudahan dalam segala urusan. Bukan kuatnya, bukan mudahnya yang kudapati namun yang kudapati adalah mata kuliah baru yang membuatku belajar  menjadi kuat dan mendapat banyak ilmu dari Nya.
    Alhamdulillahirobbil’alamin

    Sleman, 29 November 2018







    Masuk Dari Pintu Kesukaan Anak

    Penulis : Muhammad Ariefuddin

    Menjadi guru kelas 1 adalah kali pertama kualami selama 11 tahun mengajar di SDIT Alam Nurul Islam. Guru kelas 1 konon tantangannya adalah menuntaskan soal kemandirian siswa. Menuntaskan kemampuan membaca, tulis dan hitung. Bersabar dengan proses adaptasi siswa di sekolah dengan lingkungan dan cara belajar baru. Meksipun sebenarnya setiap guru itu mempunyai tantangannya sendiri-sendiri. Banyak orang mengira menjadi guru kelas atas itu lebih enak dan ringan. Karena anak-anaknya sudah mandiri belajar dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Tapi, dinamika baru mulai timbul. Proses pubertas siswa disertai dengan perubahan perilakunya. Pergaulan sudah mulai bergrup-grup. Ketertarikan lawan jenis mulai tumbuh. Pengakuan akan eksistensi diri menjadi kebutuhan. Jika tidak terdampingi dengan benar, dinamika itu berpotensi melahirkan perilaku yang cenderung untuk melanggar norma dan tata aturan.

     Di kelas 1 baru aku berjumpa dengan, sebutlah saja namanya Rama. Observasi awal nampak jika Rama menunjukkan aktivitas ketergantungan yang masih tinggi dengan ibunya. Saat ditinggal berpisah ibunya terlihat lama dan sulit prosesnya. Kedua tangan ibunya dipegang erat disertai tangisan yang keras. Ibunya melakukan berbagai cara untuk merayu supaya Rama mau melepas tangan ibunya, namun makin kuat saja genggaman tangannya. Hingga terpaksa tubuh Rama kugotong hingga terlepaslah kedua tangan ibunya. Masih dengan tangisan yang makin keras, kuyakinkan jika nanti ibu akan menjemputnya saat sekolah usai. Sebenarnya, cukup didiamkan saja, Rama akan menghentikan tangisannya sendiri. Berhenti karena mulai mengamati aktivitas teman-temannya di kelas. Atau saat bermain di luar kelas. Dua pekan masuk pertama ‘ritual’ Rama setiap pagi saat mau dilepas ibunya belum juga menunjukkan perubahan lebih baik. Di kelas, saat proses pembelajaran pun, Rama seperti mempunyai dunianya sendiri. Diam dengan tatapan mata kosong dan respon lambat dengan perintah. Jika kami sedang bercerita lucu, semua siswa tertawa terbahak. Tapi Rama hanya diam saja. Tak ada respon. Pernah tertawa tiba-tiba sambil menyebut sesosok karakter film sambil bicara sendiri.

     
    Observasi kelas dirasa cukup, langkah berikut yang ditempuh adalah observasi di rumah. Kegiatan Home Visit pun kami lakukan dengan tujuan untuk mendapatkan indormasi dan data pelengkap. Di rumah kami diterima kedua orang tua Rama dengan baik. Kedua orang tuanya menyiapkan kehadiran kami dengan baik. Keduanya orang tuanya berprofesi sebagai dosen. Ibu menjadi dosen di perguruan tinggi di Jogja. Sedangkan ayah menjadi dosen di Salatiga. Setiap Senin sampai Rabu di Salatiga. Rabu sampai Kamis pulang ke rumah. Nanti Kamis ke Salatiga lagi. Baru Sabtu dan Ahad di rumah. Sehingga praktis yang paling banyak membersamai Rama adalah sang ibu. Rama mempunyai kakak perempuan kelas 6. Karena kesibukan orang tua, terkadang Rama difasilitasi dengan mainan. Termasuk diperbolehkan mengakses Youtube. Saat itu kami melihat Rama baru melihat Youtube. Nampak berbeda sekali perilakunya saat melihat Youtube. Respon cepat dengan video yang sedang diputar. Terutama video dengan musik dan nyanyian. Video yang ditonton dominan berupa film kartun. Bahkan, sesekali dengan sambil tertawa, Rama menyebut salah satu karakter di video yang ditontonnya. Menyebutkan ibu atau saya seperti salah satu karakter dalam film kartun yang ditontonnya. Rupanya, Rama suka akan hewan peliharaan. Di samping rumahnya terdapat kandang yang dihuni oleh beberapa hewan piaraan. Ayam, angsa, bebek dan kambing. Kami diajak melihat hewan piarannya. Dari cerita orang tua dan cara ia memperlakukan hewan piaraannya, terlihat Rama memang menyukai sekali aktivitas memelihara hewan tersebut. Bukan semata moody saja. Terlihat beberapa hewan hingga sampai beranak banyak. Beberapa hewan dibeli dari uang Rama yang dikumpulkan sendiri dari tabungannya. Bahkan sudah mempunyai rencana untuk memiliki Sapi.
     
    Dua data dari hasil home visit itu menjadi informasi penting kami dalam melakukan pendekatan terhadap Rama. Tontonan dan Hewan piaraan. Kami coba membuat contoh materi pembelajaran yang mengandung unsur tontonan film, nyanyian dan hewan. Respon Rama masih sama. Diam. Kebetulan di kelas ada satu anak yang suka sekali dengan dunia hewan. Selalu yang diceritakan adalah Dinosaurus, Tyrex dan sebangsanya. Hewan-hewan liar. Suatu ketika, saat istirahat, kami jumpai si anak tersebut bermain di perpustakaan dengan Rama. Mereka berdua sedang membuka-buka buku. Sewaktu kami lihat, ternyata buku tentang hewan. Yang membuat takjub, Rama nampak senang dan ngobrol disertai tawa dengan anak satunya yang sedang bersemangat bercerita tentang hewan yang ada di buku tersebut. Fenomena ini membuat kami takjub. Ternyata topik hewan menjadi pemicu respon positif bagi Rama. Di kelas, kami coba libatkan anak yang tadi ngobrol tentang hewan dengan Rama. Terutama hewan kesukaanya. Si anak responnya bersemangat berkomentar. Dan rupanya Rama ikut juga menunjukkan respon. Meski hanya dengan senyum kecil. Matanya tidak kosong lagi. Terus kegiatan seperti itu diulang dengan modifikasi lain. Rama semakin menunjukkan positif responnya.

    Kebetulan sekolah kami ada kerjasama dengan Fakultas Psikologi UGM setiap tahun. Programnya adalah pendampingan siswa yang ‘bermasalah’ untuk dilakukan treatment penyembuhannya. Rama masuk dari salah satu siswa yang didampingi. Dari observasi dan tes psikologi menunjukkan hasil bahwa Rama masuk pada anak yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata. Awalnya kami tidak percaya tes tersebut. Karena menurut kami, Rama hanya lemah di perhatian dikarenakan perlakuan orang tua yang sibuk di rumah. Apalagi adanya respon positif dengan melakukan perlakuan dari yang merupakan kesukaan Rama. Tes terhadap Rama dilanjutkan. Hasilnya cukup mengejutkan. Rama didiagnosis sebagai anak gejala Autis. Orang tuanya sempat berdiskusi dengan kami. Kami tetap berpegangan bahwa Rama normal. Dia hanya butuh pendampingan khusus. Oleh orang tuanya, Rama diteskan di psikolog lain. Dan hasilnya, Rama baik-baik saja. Hanya gangguan perhatian. Rekomendasinya, Rama jangan diberi beban, terutama belajar. Biarkan dia melakukan dari yang menjadi kesukaannya.

    Waktu berlalu, perlakuan dengan hal yang disukai Rama selalu dilakukan. Hewan dan musik, nyanyian. Kami tidak mentarget terlalu tinggi untuk akademik Rama. Hafalan termasuk juga. Karena saat belajar hafalan, nampak Rama mengalami kesulitan dalam pengucapan ayat. Namun, sungguh mengejutkan. Rama berhasil menyetorkan hafalan surah An-Naba yang mempunyai 40 ayat. Dan itu tuntas dilakukan. Orang tuanya juga terkejut. Karena sewaktu di rumah, pendampingan belajar hafalan Rama juga tidak terlalu ditekan. Namun, hasilnya di luar dugaan. Beberapa kemampuan diri mulai nampak dilakukan secara mandiri. Seperti mencuci piring, memakai baju sendiri. Meski untuk mandi masih perlu bantuan. Untuk materi Rukun Iman, Rama juga hafal. Karena ustadzah penyampaiannya dilakukan dengan bentuk nyanyian. Kemampuan membaca dan berhitungnya menunjukkan perkembangan semakin baik. Orang tuanya mendukungnya dengan les privat di rumah. Masih butuh pendampingan dalam menyelesaikan soal meski akhirnya tuntas dikerjakan. Kami optimis perkembangan Rama ke depan semakin baik. Praktis dalam waktu 2 bulan perkembangan Rama menunjukkan hasil signifikan. Yang hal tersebut menambah keyakinan orang tua Rama untuk bersemangat mendampingi Rama di tengah kesibukan pekerjaannya.

           

    Lelaki Dan Bola

    Penulis : Nuryadi


    Ada tempat dimana anak-anak akan mudah di temukan atau di cari. “ya” di salah satu sudut area dimana anak laki-laki selalu berkumpul ‘benar’dilapangan bawah.Tempat itu adalah tempat dimana berkumpunya ide tingkah atau ilmu tentang anak laki-laki berkumpul.dari solidaritas,kerjasama,menghormati sesama,mengakui kekalahan ,sampai egoispun ada.
    Sesekali saya ikut gabung dengan mereka, walaupun di pikiran mereka ust gangu,”us mingir us kita lagi tandingan” ternyata mereka sedang merebutkan lapangan bawah siapa yang mengunakan untuk main, secara tidak langsung mereka bermain bersama terus kenapa mereka masik bertanding.ternyata tidak terlalu sulit buat mereka untuk menyelesaikan permasalahan cukup sediakan bola saja.
    Ada juga yang hanya sekedar menonton pertandingan yang seperti pertandingan piala dunia,tapi asik juga.tak sadar ternyata saya sudah hanyut dengan tingkah mereka .
    Kadang kala ketika lapangan bawah sedang di gunakan out bond atau memanah atau kegiatan lain, mereka tak segan segan untuk mengangkat gawang ,secara postur anak kelas dua itu lebih kecil daripada gawang tapi niat untuk main bola yg bikin semangat,kerjasama,kekuatan mereka langsung muncul seperti pasukan semut yang memindahkan makananya bersama.
    Melihat mereka ketika bersama bola itu teringat film anime jepang tsubasa “bola adalah teman” bukan sekedar teman sejara terlihat tetapi bola sudah sebagai pemersatu diantara teman dari teman. Sudah tak ada batasan lagi dia kelas 5 dia kelas 4 dia kelas 6. Yang penting main bola.
    Anak laki dan bola
    Langkanya takterhenti
    Keringatnya bercucuran
    Senyumnya melebar
    Tak ada batasan waktu ketika mereka main hanya satu yang dapat menghentikan permainan mereka yaitu asmaul husna, mau tak mau harus berhenti walaupun kalah ,nangung,atau yang lain .

    Membangun Rasa Empati di Kelas Una

    Oleh: Nesya Arantika Dewi

    Preparation is always the best. Menemukan sebuah kalimat dalam buku jurnal harian lapuk tak terawat yang tersimpan dalam lemari ada membuat alam pikiran ini ingin nostalgia beberapa tahun lalu.
    Sleman, 1 Mei 2016

    Ahad yang mendebarkan karena esok adalah hari pertama memulai kiprah bersama anak-anak di sekolah. Mencari informasi sebanyak-banyak mengenai siapa mentor dan kegiatan yang ada di kelas pada waktu itu. Ada yang bilang jika magang di kelas atas anak-anaknya acuh terhadap guru baru. Rumor itu membuat tidur tak nyenyak. Apapun, show must go on!
    Setelah sebulan berlalu, ternyata tidak cukup untuk memahami sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah ini. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk memahami dan mengkaji apa yang sebenarnya menjadi prioritas sekolah yang dikenal sebagai sekolah alam ini. Terlihat bahwa sekolah ini sudah mulai memiliki tagline pendidikan yang berbeda dengan sekolah yang lain.
    Decak kagum mulai terpancar pada wajah orang baru yang menapaki dunia sekolah ini. Namun, waktu berkata lain ketika selama dua tahun harus berpisah sejenak dengan sekolah ini.
    Setelah dua tahun kembali.

    Masih sama. Metode pendidikan yang diterapkan di sekolah, tidak banyak berubah. Ketika tahun ajaran baru dimulai, mengajar di kelas baru pun menjadi tantangan tersendiri. Mendapatkan kelas yang katanya ‘istimewa’ ataupun yang ‘biasa aja’ itu hanyalah persepsi yang lumrah bagi masing-masing individu.
    Ke mana anak hendak dibawa?

    Pertanyaan besar itu seketika muncul di benak. Tekanan utamanya jelas, anak akan ditemani atau diantarkan dalam pencarian jati diri mereka selama menjalani perjalanan kehidupan. Hanya itu. Anak sudah memiliki potensi besar yang harus dikembangkan. Banyak orang menganggap ada anak bodoh ataupun nakal. Sebaliknya, setiap anak harus dipandang sebagai anak istimewa. Dan manusia mengemban peran itu. Mengubah mindset tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi ketika menerapkan mindset yang salah, itu akan menghancurkan masa depan.
    Teaching is performing arts. Yah, mengajar adalah sebuah seni mendidik.

    Ada sebuah kisah seorang anak. Panggil saja dia dengan nama Una. Una adalah salah satu anak cerdas tetapi sayangnya banyak orang yang mengganggap dia anak nakal, pemberontak dan tak


    mudah dikendalikan. Tuduhan itu sangat membekas hingga sekarang, sehingga ketika dia melakukan hal baik, dia ragu dengan apa yang dikerjakannya.
    Ini adalah salah satu bukti bahwa anak memiliki sense yang tinggi terhadap sesuatu yang menyakiti mereka.
    Anak istimewa. Mereka itu beragam sesuai dengan jalan mereka masing-masing. Keberagaman yang mereka bawa itu mewujudkan bahwa kita hidup di dunia memang berbeda-beda. Setiap anak itu spesial, mereka itu memiliki kanvas kosong yang akan mereka warnai dengan kuas berbagai warna. Tinggal bagaimana guru menemaninya.
    Membangun rasa empati di kelas.

    Empati. Sebuah kata yang tidak asing namun sulit untuk menerapkannya. Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan seseorang karena kita dapat membayangkan seperti apa rasanya menjadi mereka. Ini adalah bagian dari keadaan emosi positif yang kuat di mana kita dapat memperlakukan orang lain dengan hormat sementara masih menetapkan batas yang tepat tentang bagaimana orang lain berperilaku di sekitar kita. Manfaat dari empati di dunia pendidikan adalah membangun budaya positif, menguatkan dan mempersiapkan anak untuk menjadi pemimpin di ranah mereka masing-masing.

    Tahun ini, rasa empati menjadi fokus saya saat mengajar. Ketika mengajar, empati akan mengalir begitu saja saat kami berdiskusi. Anak-anak memberikan perspektif mereka masing-masing. Apalagi dengan karakter anak yang berbeda-beda, empati berperan penuh dalam diri mereka.

    Empati adalah jantung dari budaya kelas yang hebat. Melalui empati, anak akan memahami satu sama lain dan dapat membangun rasa pertemanan yang lebih erat berdasarkan hubungan yang positif dan saling percaya.
    Mengingat bahwa definisi empati melibatkan pemahaman perasaan orang lain, empati menetapkan anak untuk memperdalam hubungan dengan teman sekelas mereka saat ini dan orang-orang yang mereka kenal di luar sekolah. Dalam dunia kita yang semakin terglobalisasi, orang-orang ini mungkin berasal dari budaya yang berbeda dan latar belakang sosial-ekonomi yang berbeda dari sebelumnya, sehingga membutuhkan keterampilan empati yang lebih baik.
    Ketika anak-anak belajar keterampilan empati dengan berkomunikasi secara lintas karakter dengan teman sekelas mereka, keterampilan itu akan berpindah ke kehidupan mereka di komunitas mereka. Hubungan yang lebih dalam yang dihasilkan dari keterampilan empati yang kuat memiliki potensi untuk memperkuat komunitas dan membangun kepercayaan.
    Anak harus dapat berempati dengan orang-orang yang mereka pimpin untuk membuat mereka merasa dihargai. Validasi ini akan memperkuat kepercayaan antara pemimpin dan pengikut.


    Sebagai guru, kita harus membekali siswa kita untuk menjadi pemimpin masa depan komunitas kita dan seterusnya.

    Membangun rasa empati di kelas bisa menggunakan cara membaca buku fiksi. Pertanyaan dan diskusi berdasarkan cerita bekerja dengan baik untuk membangun bahasa untuk emosi, terutama ketika guru dan anak bekerja sama untuk mengeksplorasi apa yang menyebabkan karakter untuk bertindak atau merasa seperti yang mereka lakukan, dan konsekuensi dari tindakan dan emosi mereka.

    Empati tidak menawarkan alasan untuk pilihan yang buruk. Sebagai seorang guru, terkadang empati harus diikuti oleh konsekuensi, atau dengan membiarkan kesedihan masuk ke dalam kehidupan siswa kita. Tetapi dengan empati, kita bisa memberi konsekuensi dengan cinta daripada kemarahan. Empati adalah fondasi dari semua kecerdasan emosional. Dengan membantu anak-anak belajar empati, kita meningkatkan peluang mereka akan memiliki hubungan sosial positif yang kuat, benar-benar peduli terhadap orang lain, dan mampu menetapkan batas yang sesuai dalam kehidupan mereka sendiri tanpa menggunakan peri