Sekolah Alam Nurul Islam

    Magang Bakat

    "Lho baru SD kok sudah magang?"

    Hampir itu pertanyaan yang dilayangkan kepada guru kelas 6 yang hari itu seharian menyampaikan surat resmi sekolah di 19 lokasi tempat Magang Bakat.
    Pertanyaan itu wajar adanya, karena memang dalam sejarah di Jogja belum satu pun pernah dijumpai fenomena kegiatan magang untuk anak SD.
    Ini adalah program magang bakat kali tahun yang ketiga bagi siswa kelas 6. Magang bakat berbeda dengan magang yang dilakukan oleh siswa SMK apa mahasiswa. Jika selama ini magang ditujukan untuk mengasah skill agar peserta magang lebih terampil di dunia profesi, untuk magang bakat ini berbeda.
    Karena peserta magang bakat sendiri masih di usia SD. Tentu belum pas jika dunia profesi ditargetkan kepada mereka.
    Magang bakat ini adalah bentuk experiencial learning, pembelajaran siswa yang merasakan langsung aktivitas yang dilakukan. Bukan sekedar hanya mendengar dan menyimak ceramah dari guru.
    Bukan keahlian profesi yang disasar. Tapi, lebih ke menguji adab siswa di kehidupan nyata. Pendidikan adab tidak cukup hanya diceramahkan. Tapi harus diuji langsung bertemu dengan orang. Apalagi yang belum di kenal di ruang publik.
    Sikap taat tentu tak cukup hanya dipesankan berulang kali. Tapi juga harus diasah dengan nyata.
    Magang bakat ini berlangsung selama 3 hari. Dimulai hari Selasa ini sampai besok Kamis. Memang cukup singkat durasinya. Di beberapa lokasi magang bakat ada komentar "Cuma 3 hari ya Pak, pendek sekali". Betul juga. Masukan ini jadi masukan untuk program Magang Bakat tahun depan.
    Hari ini hari pertama Magang Bakat. Kami mengadakan kunjungan untuk melihat langsung dan ngobrol dengan pemilik lokasi magang bakat.
    Ada sebuah pertanyaan menarik dari pemilik lokasi Magang Bakat.
    "Apakah ini terkait dengan kurikulum Profil Pelajar Pancasila ?"
    "Apakah ini merupakan implementasi dari kurikulum merdeka?"
    Kami hanya ingin bahwa setiap siswa yang akan lulus nanti bisa menjawab pertanyaan "Siapa kamu ?" dengan jawaban "Ini lho saya"
    Karena saat siswa bisa menjelaskan dengan detail dan mantab siapa dirinya, itu bagian dari kejelasan kemana selanjutnya akan meneruskan kehidupannya.
    Mengapa tak sedikit anak bahkan orang dewasa yang masih sulit mendeskripsikan siapa dirinya, itu adalah biang dari ketidakjelasan kemana setiap pilihan dalam hidupnya. Hari demi hari, tahun demi tahun tidak semakin memperjelas justru makin membuatnya insecure.
    Akhirnya, munculnya apa yang disebut dengan kenakalan remaja itu bukankah berawal dari ketidakjelasan itu.
    Kejelasan siapa aku itu hanya bisa dijawab oleh diri yang bersangkutan. Bukan dengan status, titel, seragam, anggota atau kader apa.

    Saat kami berkunjung ke Grhatama Pustaka DIY. Yang berada di sebelah timur Jogja Expo Center. Kami disambut oleh Bu Gandes. Beliau sangat excited dengan program Magang Bakat ini.
    "Program ini seperti mimpi saya yang menjadi kenyataan", kata beliau. Di tahun 2019an beliau pernah ajukan program semacam visiting anak ke Grhatama. Di situ anak-anak akan dikenalkan dengan dunia pustaka dengan kemasan menarik.
    Mengenal pemoresan buku dari deskripsi, kodifikasi sampai siap disimpan di rak pustaka. Pogram read a loud dengan bentuk dongeng sampai cosplay dengan kostum figure cerita. Sampai memproduksi sebuah tulisan yang akan dikemas dalam bentuk buku di akhir program.
    Program itu terinspirasi setelah beliau ada kunjungan ke Singapura. Tapi sayang karena sesuatu hal ditambah pandemi covod, program itu belum bisa direalisasi. Ketemu dengan siswa yang magang bakat ini, mimpi bu Gandes dahulu akan bersemi kembali.




    Kunjungan kedua di studio Arvi. Di daerah Tegalrejo Jogja. Sebuah usaha di bidang jahit dan sablon kaos. Sambutan hangat kami dapatkan di sini. Pemilik Arvi langsung ikut gabung di forum obrolan kami dan siswa.
    Beliau langsung menceritakan bagaimana perjalanan Arvi studio yang sangat heroik. Pernah mengalami jatuh bangun usahanya. Di saat kejatuhannya yang paling terpuruk justru saat itu membawanya pada titik kesadaran tauhid yang paling dalam. Tercermin dari ungkapan ownernya "Kerja itu kan sebenarnya cuma nunggu sholat kan pak"

    Beberapa tempat magang bakat selanjutnya seperti Nurul Khikmah Daycare, Toko Weepy, PAUD Alam Uswanun Khasanah dan Mekar Jaya Mart selanjutnya yang lokasi yang dikunjungi. Lokasi lain dilanjut hari berikutnya.







    Backpacker Ke Semarang

     








    Nuris Channa MiniContest : Even Perdana Yang Diorganisir Oleh Siswa

     

    Setiap selesai evaluasi akhir semester ganjil ada kegiatan Nuris Games. Tapi di momen akhir semester kali ini ada sebuah kejutan. Mengapa kejutan ? Karena di luar agenda kegiatan Nuris Games, siswa kelas 6A membuat even yang menarik.

    Even itu adalah Nuris Channa MiniContest. Berawal dari beberapa siswa yang punya hobi memelihara ikan Channa, mereka sepakat untuk membuat even yang perdana diorganisasi oleh siswa itu. 

    Semua panitia dari ketua, bendahara sampai yang cari desain poster digital oleh siswa. Begitu disepakati even itu, siswa yang menguasai aplikasi desain Canva langsung browsing model poster digital. Kemudian dengan segera poster itu diubah sesuai dengan ketentuan.


    Termasuk pesan piala kejuaraan juga mereka sendiri yang melakukan. Karena waktu sudah mepet sehingga desain piala hanya bisa memilih yang ada di lapak pembuatan piala. Mereka memilih piala berbentuk kayu kemudian ditempel stiker identitas even minicontest.

    H-1 even, para peserta sudah mulai loading aquarium dan ikan Channanya. Mengapa harus H-1? Karena dalam contenst Channa itu yang dibutuhkan adalah performa Channa. Untuk mendapatkan Channa yang atraktif dibutuhkan adaptasi lingkungan dahulu. Proses pengangkutan beresiko membuat Channa terganggu secara adaptasinya. Sehingga dengan didiamkan selama 24 jam harapannya Channa akan segera beradaptasi dan bisa atraktif saat dinilai.



    Dari publikasi yang dibagi ternyata yang minat bukan hanya siswa kelas 6 saja. Tercatat peserta ada yang dari kelas 1, 2, 3, 5 bahkan kelas 9. Mereka masing-masing membawa Channa jagoannya sendiri-sendiri untuk ditandingkan saat kontes nanti.
     

     

    Saat kontes pun tiba. Agar proses penilaian kondusif untuk sementara para penonton tidak diperkenankan masuk ruangan dahulu. Agar para Channa bisa menunjukkan gayanya dengan maksimal. Tanpa terganggu oleh penonton. Sebagai juri, siswa kelas 6A menunjuk ustadz Ginong yang memang sebagai pecinta binatang. 
    Setelah proses penilaian dilakukan akhirnya sebagai pemenang kontes dan meraih juara 1 adalah Channa milik mas Razan kelas 6C kemudian disusul Channa milik Dzulnan kelas 6A dan urutan ketiga Channa milik mas Fadlin kelas 9.

    Setelah kontes selesai di arena even mendapat kunjungan pak Fathoni yang merupakan ayah dari salah seorang siswa kelas 1 yang ikut kontes. Sungguh surprise ternyata pak Fathoni ini merupakan salah seorang ahli dalam perChannanaan. Saat ini pak Fathoni sedang membuat konten dan sangat mengejutkan lagi ternyata pak Fathoni ini kenal baik dengan Fajar Arif. Bagi para pecinta Channa pastilah kenal bener siapa Fajar Arif. Kemudian anak-anak diberi kesempatan video call dengan Fajar Arif semua nampak gembira penuh kejutan.
      

    Backpacker Ke Solo


     Kata siapa kalo jalan-jalan itu hanya untuk healing. Senang-senang. Hura-hura. Saja ?

    Tour, perjalanan itu salah satu metode experiential learning yang paling nendang banget. Kenapa?
    Di sini bukan semata teori. Bukan semata omongan dan ceramah.
    Pelakunya akan sangat nyata mengalami setiap detik dan detail kejadian.
    Banyak kemungkinan di luar rencana sangat terbuka untuk terjadi.
    Jika terjadi salah tak bisa di tip-ex. Atau dihapus. Tapi terus dihadapi.
    Setiap orang dipaksa untuk siap melakukan antisipasi. Mitigasi.
    Meski bisa juga banyak kejutan yang membahagiakan muncul tiba-tiba.
    Tentu belajar meodel ini super dinamik dibanding manakala duduk manis di bangku kelas yang bersih dan dingin karena AC.
    Mentaati aturan untuk antri. Menggunakan masker. Duduk mendahulukan yang manula dan ibu hamil. Tidak makan minum saat di kereta. Itu semua harus dilakukan.
    Adab langsung bisa diuji di metode ini. Jika tak beradab, teguran langsung dari siapapun akan didapatinya.
    Antisipasi hajat pribadi harus diseting beda dengan saat tak dalam perjalanan.
    Manajemen perbekalan dan cara membawanya.
    Menyusun itinerary tujuan perjalanan berikut membaca peta wilayah dan moda transportasi yang dipilih.
    Tak lupa manajemen keuangan supaya tidak boncos dan setiap rupiah efektif dikeluarkan.
    Sungguh indah Allah memberi fasilitas kepada para musafir. Boleh menjama' qashar sholat, boleh tidak puasa saat Ramadhan, boleh tidak jum'atan, doanya diijabah selama perjalanan, bahkan masuk dalam satu dari 8 asnaf penerima zakat.



    INFLUENCER - FOLLOWER


    Guru itu harusnya menginspirasi bukan hanya suka beri instruksi.
    Mungkin ada benarnya ungkapan itu.
    Pagi ini, setelah siswa kelas 6 sholat Dhuha dan Ma'tsurat, sengaja aku tak ingin mendahului membuka morning speech. Kuminta guru lain memulainya.
    Alasannya, suasana hati yang sedang diliputi negatif mood saja. Setelah menyaksikan sikap tidak seriusnya beberapa oknum siswa saat dzikir.
    Ternyata teman guru membuka forum dengan memanggil salah satu oknum siswa tak tertib itu maju menemaninya. Si guru bertanya menelisik mengapa ia dipanggil ke depan.
    Persis yang kuharapkan. Si guru tidak lantas marah dengan sikap tidak tertibnya si oknum siswa. Tapi berdialog memandu pelan sehingga si oknum mengakui kesalahannya.
    Aku suka sekali ungkapan yang dipakai si guru. "Kalian itu lebih suka MENGATUR kan daripada DIATUR ?" MAKA, "Aturlah diri kalian sendiri jangan menunggu orang lain untuk mengatur diri kalian!"
    Beberapa waktu berjalan, mood negatifku mulai menghilang. Jadi ingin ikut menambahkan diskusi pagi itu. Si guru pun mempersilahkanku.
    Kuawali pembicaraanku dengan kata-kata yang kucoba mewakili apa yang mereka rasakan.
    "Sebenarnya ustadz gak mau ngomong banyak, karena dengerin orang yang banyak omong itu membosankan, betul ?"
    Kulihat ada beberapa anak menganggukkan kepala. Pelan.
    "Ustadz sedang berpikir keras untuk memilih kata-kata yang tepat. Jadi biar sedikit kalian dengarnya. Sedikit tapi jitu menembus hati"
    Nampak ada satu dua anak menekan pelan dadanya dengan kedua tangannya.
    "Untuk berubah itu memang berat. Bisa saja ustadz marah besar saat ini dan kalian bisa berubah jadi tertib. Tapi bukan perubahan seperti itu yang diharapkan"
    "Perubahan seperti itu tipu-tipu. Hanya formalitas. Action saja. Yang seperti itu berat lho. Karena hati belum mau berubah. Tapi badan dipaksa berubah"
    Kucoba telanjangi apa yang ada di benak kata hati mereka.
    "Yang berubah beneran sama formalitas itu sangat bisa dibedakan lho"
    "Memang yang beneran itu penentunya hidayah. Dan itu misteri hanya kehendak Allah"
    "Ustadz gak muluk-muluk semua harus berubah. Cukup sedikit dari kalian bisa berubah beneran. Berprinsip. Maka yang sedikit itu akan menarik sisanya yang bisa jadi lebih banyak untuk mengikuti kebaikannya"
    *****************************************
    Guru olahraga pas ijin tak berangkat. Rencana awalnya siswa putra akan sepakbola. Karena jumlah siswanya yang terlalu besar, sepakbola urung dilakukan.
    Niat awalku hanya menunggui siswa olahraga. Tapi melihat siswa yang tak jadi sepakbola, kulemparkan pertanyaan.
    "Ayo lari maraton saja supaya bisa semua melakukan" tawarku yang sebenarnya jawabannya sudah ketahuan.
    Lalu, ada siswa yang usul "Jalan-jalan ustadz !"
    Kuiyakan usulnya. Lalu kita beberapa siswa berangkat jalan. Tujuannya belum jelas. Yang penting jalan dulu.


    Sambil jalan kita ngobrol. Ternyata, angkatan ini termasuk yang tak sempat mengalami aktivitas pembelajaran yang 'aneh-aneh'.
    Hal itu ketahuan setelah kuceritakan aktivitas-aktivitas pembelajaran kelas yang pernah kuampu seperti, tangkap ikan lalu dibakar dan makan siang di pinggir kali. Penjelajahan mencari harta karun dan seterusnya.
    Sampailah obrolan kami pada istilah bonek. Aksi nekat para suporter Persebaya.
    "Kira-kira orang tua kalian mengijinkan gak ya kalau ustadz ngajak kalian mbonek"
    "Maksudnya ustadz?" selidik mereka.
    "Ya pokoknya kita pergi tanpa bekal selama 24 jam, nanti kalau butuh makan apapun dilakukan. Kalau butuh transport bisa menghentikan truk atau pick up" jelasku
    "Kayaknya kalo program sekolah diijinkan ustadz" salah seorang menimpali.
    "Ayo ustadz setuju" jawab beberapa anak lain.
    "Ah jangan ah, kita baru fokus untuk nyiapkan ASPD kan" batalku
    "Ya ustadz, gak apa-apa" jawab mereka dengan nada kecewa.
    "Gimana kalo mboneknya sekarang saja?" kataku
    "Maksudnya?"
    "Kita jalan lurus ke selatan sampai jalan godean trus ke arah timur ke ringroad, lalu ke utara menuju sekolah ?" tantangku.
    "Ayo, siapa takut ?" jawab mereka semangat.
    Tak terasa jalan sudah mulai menjauh. Jalan terus tanpa bekal jika haus kita bertekad mampir masjid minum air kran.


    Alhamduillah ada sebuah masjid yang menyediakan air galon. Gak jadi deh minum air kran.
    Dan betapa kagetnya, ternyata yang ngikut semua siswa laki-laki. Hanya 2 siswa saja yang gak ngikut.
    Di akhir perjalanan, kami dapati pemaknaan ngobrol pagi tadi di masjid.
    Bahwa sedikit saja yang berubah jadi baik dan BERPRINSIP KUAT akan mampu menarik mayoritas lainnya mengikuti kebaikan menjadi barisan yang dipimpin oleh influencer.

    SARAPAN MATEMATIKA


    Penulis : Siti Nurrochmah, S. Pd. Si.



    Tidak bisa dipungkiri jika saat ini matematika bagi sebagian anak menjadi salah satu mata pelajaran yang paling tidak di sukai. Bahkan ada sebgian anak yang benar-benar tidak menyukai matematika. Tentunya dengan berbagai alasan, diantaranya matematika itu sulit, matematika itu banyak rumusnya, aematika itu angkanya benar-besar dan membuat pusing tujuh keiling, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya. Jika anak-anak ditanya satu persatu pasti akan ada seribu satu alasan kenapa mereka tidak menyukai matematika.
    Karena beberapa alasan tadi maka muncullah mindset anak-anak kalau matematika itu sulit. Mindset itu terus mereka bawa hingga kelas 5, sekarang ini. Sehingga tidak jarang dijumpai sudah kelas 5 tapi perkalian dan pembagian dasar masih belum lulus. Hal ini terjadi di kelas saya (5A). Awal masuk di kelas 5A sebagian besar anak kesulitan dalam perkalian dan pembagian dasar. Padahal perkalian dan pembagian dasar seharusnya sudah harus mereka kuasai di kelas-kelas sebelumnya.
    Hal ini sangat menganggu proses belajar mengajar terutama ketika masuk materi FPB dan KPK.  Anak mengalami kesulihan dalam mengalikan bilangan. Saya pun mengalami kesulitan dalam mengajarkan materi karena sebagian besar anak masih belum lulus perkalian dan pebagian dasarnya. Melihat kondisi tersebut terbesit dipikiran saya untuk memperbaiki perkalian dan pembagian dasar anak-anak terlebih dahulu.
    Kali ini metode yang saya gunakan adalah mengedril anak-anak sebisa mungkin setiap hari untuk mengerjakan soa-soal perkalian yang sudah saya buat (tipe soal pertama). Soal berjumlah 50 soal, dengan waktu hanya 5 menit. Setelah 5 menit berlalu maka selesai maupun tidak selesai anak-anak harus berhenti mengerjakan. Begitu sterusnya hingga beberapa hari dan dengan soal yang sama.
    Soal baru akan di ganti jika sebagian besar anak sudah di anggap lulus tentunya dengan mendapkan nilai yang bagus atau kesalahan tidak lebih dari 5 soal. Setelah di anggap lulus soal akan di ganti dengan tipe soal kedua. Tipe soal yang ke dua masih tentang perkalian hanya saja soalnya di buat sedikit berbeda meskipun masih ada soal yang sama namun letak nomernya di buat berbeda dengan tipe soal yang pertama. Tipe soal yang kedua perlakuannya sama degan tipe soal pertama, dikerjakan berulang-ulang dan dalam waktu 5 menit.
    Setelah tipe soal pertama dan kedua dianggap lulus maka anak-anak akan melanjutkan tipe soal yang ketiga, yaitu tentang pembagian dasar. Tipe soal yang ketiga perlakuannya juga sama degan tipe soal pertama dan kedua, dikerjakan berulang-ulang dan dalam waktu 5 menit. Kami biasa menyebut metode ini dengan sebutan “sarapan matematika”.
    Hari pertama anak-anak mengerjakan soal perkalian dasar hasilnya sungguh luar biasa, hanya tiga anak yang salahnya kurang dari 10, lainya di atas 10 semua bahkan ada satu anak yang salahnya mencapai 46 dari 50 soal. Berati soal yang  dikerjakan dengan benar hanya 4 soal. Karena saya sudah menyampaikan ke anak-anak kalau sarapan matematika ini akan dikerjakan berulang-ulang, maka untuk hari kedua dan seterusnya hasinyal sudah lebih baik dari hari pertama.
    Tipe soal pertama dikerjakan selama 9 hari, dengan hasil di hari kesembilan ada 11 anak yang benar semua, 5 anak salah 1, 1 anak salah 3, 1 anak salah 8, satu anak salah 9, dan 4 anak tingakat kesalahan masih di atas 10 yaitu salah 13, 15, dan 28. Satu lagi ijin tidak masuk karena sakit cacar. Karena hanya tinggal 4 anak yang belum lulus maka tipe soal pertama saya anggap selesai dan akan beralih ke tipe soal yang kedua.
    Di tipe soal yang kedua ini anak-anak sudah semakin lihai, hasilnya juga lebih bagus dari tipe soal pertama. Untuk tipe soal yang kedua ini hanya dikerjakan selama 4 hari. Dengan hasil akhir 14 anak benar semua, 3 anak alah 1, 1 anak salah 2, 1 anak salah 5, 1 anak salah 9, dan 3 anak tingakat kesalahan masih di atas 10 yaitu salah 14, 15, dan 20. Satu lagi masih ijin tidak masuk karena sakit cacar. Karena hanya tinggal 4 anak yang belum lulus maka tipe soal kedua saya anggap selesai dan akan beralih ke tipe soal yang ketiga. Tentunya dengan selalu meyampaikan ke annak-anak untuk selalu mengulang-ngulang sendiri di rumah dengan di dampingi orang tua masing-masing.
    Ketika saya memberikan tipe soal yang ketiga, yaitu pembagian dasar hasilnya masih jauh dari harapan saya. Hanya 3 anak yang benar semua dan 4 anak salahnya kurang dari 10 sisanya kesalahan di atas 10 nomor. Bahkan ada satu anak yang salahnya mencapai 44 dari 50 soal. Tipe soal yang ketiga ini juga dilakukan berulang-ulang. Di tipe soal yang ketiga ini karena saya mengalami kekurangan waktu, maka saya meminta bantuan orang tua/wali murid dengan memberikan soal-soal pembagian dasar ke beberapa anak yang saya anggap masih kurang dan dikerjakan di rumah dengan didampingi orang tua masing-masing tentunya dengan metode yang sama ketika di sekolah, yaitu waktunya hanya 5 menit dan selalu menginformasikan hasilnya ke saya.
    Alhamdulillah dukungan dari orang tua sangat luar biasa sehingga ketika mengerjakan sarapan matematika di sekolah tentang pembagian hasilnya selalu mengalami peningkatan, meskipun masih ada 6 anak yang salahnya di atas 10.  Karena keterbatasan waktu, maka tipe soal ketiga ini saya hentikan. Hasil dari tipe soal ketiga ini adalah 11 anak benar semua, 1 anak salah 2, 1 anak salah 3, 1 anak salah 4, 1 anak salah 5, 1 anak salah 6, 1 anak salah 9, 3 anak salah 11, 1 anak salah 17, 1 anak salah 19, 1 anak salah 26, dan 1 anak tidak beragkat karena sakit.
    Dengan sarapan matematika ini kemampuan perkalian dan pembagian dasar anak-anak semakin mengalami peningkatan sehingga sangat membantu sekali dalam proses belajar mengajar. Sarapan matematiaka ini akan lebih baik jika dilakukan secara terus menerus sampai anak-anak benar-benar menguasainya hingga diluar kepala. Takutnya jika langsung dihentikan anak-anak akan lupa lagi.
    Sleman, 24 November 2018


    Uniknya Murid-Muridku


    By : Apri Hartati

    Sejak tahun 2006 awal pertama bergabung di SDIT Alam Nurul Islam baru sekali saya mengajar di kelas bawah, selebihnya dapat amanhnya di kelas atas. Dan paling lama di kelas 5. Mengajar di kelas atas tentunya siap dengan segala permasalahan anak di kelas sebelumnya. Dengan segala warisan permasalahan dan ketidaktuntasan dalam pembelajaran.
    Berawal dari pembagian tugas mengajar, saya mendapat amanah mengajar di kelas 5A di tahun ajaran 2017/2018 yang sekarang siswanya sudah kelas 6. Saya masih ingat ketika raker saya dan ust Santo dicari ustd Win (ustdnya ketika kelas 4) untuk bertemu dengan salah satu wali murid yang akan menyerahkan surat komitmen/pernyatan kontrak belajar, karena ada salah satu murid yang naik kelas dengan syarat. Bertemulah kami di kelas 1A dengan seorang Ibu yang menceritakan tentang permasalahan anak dan keluarganya hingga terbawa perasaan sampai keluarlah air mata Ibu tersebut.
    Saya baru menyadari ternyata saya mendapatkan amanah kelas yang di dalamnya terdapat permasalah anak (trio anak waktu itu Faqih. Fauzan dan Rafi) yang belum terselesaikan. Langkah awal saya mencari informasi tentang permasalah ketiga anak tersebut melalui ust ustd di kelas sebelumnya dan ustd Nanda sebagai psikolog sekolah. Bersama ustd Nanda, kita membahas langkah-langkah dalam menuntaskan permasalahan ini mengingat mereka sudah kelas 5 yang akan naik ke kelas 6 yang nantinya akan lebih focus ke akademik. Akhirnya kita sepakat untuk menuntaskan permasalah ini di kelas 5.
    Selanjutnya kita mengundang orantua dari siswa tersebut. Waktu itu di aula saya, ust Santo, ustd Nanda dan Ibu dari ketiga siswa tersebut. Di awal ust Santo menyampaikan maksud diadakannya pertemuan, kemudian ustd Nanda menyampaikan hasil tindakannya sebagai psikolog waktu dikelas 4, selanjutnya satu persatu tiap Ibu menyampaikan kelebihan, permasalahan dan harapannya  tentang putranya masing-masing. Suasana menjadi haru karena tetesan air mata dari Ibu-Ibu tersebut. Setelah pertemuan ini selesai ternyata Ibu-Ibu masih ingin berbicara lebih lanjut dengan ustd Nanda. Kemudian kami membuat grup Whaatsap.
    Di grup whaatsap inilah komunikasi kami makin lancar, apapun permasalahan, perkembngan anak kita sampaiakn di grup. Selanjutnya kita menjalankan program homevisit. Perlu waktu hampir 2 pekan untuk saya membuat janji dengan Ibunya mas Fauzan (perawat) hingga akhirnya sampailah saya di rumah mas Fauzan. Didapat informasi bahwa selain ikut SSB, mas Fauzan juga les di  waktu sore semiggu 3x. Terlihat dari hasil evaluasi nilainya meningkat. Mas Fauzan jadi tambah percaya diri apalagi setelah saya mendapat info dari ustadz Suwandi  (ust yang mengajar ekstra adzan) bahwa Fauzan adzannya bagus. Tapi masih belum PD ikut lomba adzan.
    Kemudian beralih ke mas Faqih. Di kelas 5 mas Faqih masih sering datang terlambat dan tidak mengerjakan tugas-tugas. Ada saja alasannya, setelah dikomunikasikan dengan orangtua memang alasannya kadang benar kadang mengada ada. Mas Faqih tipe anak yang keras, kalau dimarahi malah cuek. Dengannya harus tenang, dielus kepala atau punggungnya kemudian diajak bicara, baru dia mau mengungkapkan kemauannya. Secara akademik bagus, hanya saja dia suka sibuk sendiri ketika belajar di kelas, sehingga tidak paham, kemudian saya harus menjelaskan secara individu dengannya baru dia paham.
    Terakhir mas Rafi, ini anak yang paling unik, menggemaskan dan lucu. Dengannya nggak bisa marah, adanya malah ketawa terus. Secara akademik sangat berbeda dengan teman-temannya, setiap evaluasi pasti perbaikan karena banyak soal yang kosong tidak diisi. Ketika belajar di kelas sering tidur, kadang tidur pura-pura kadang tertidur benar. Kalau saya bilang, mas Rafi ustd foto ya dikirim ke Ibu. Kalau tidurnya pura-pura pasti langsung bangun. Sholatnya juga belum 5 waktu terutama Isya dan Subuh. Qiroatinya juga masih jauh tertinggal. Seperti tidak ada motivasi dalam belajar di sekolah, tapi sangat semangat ketika bermain bola. Kesamaan ketiga anak ini memang dalam hal sepak bola. Dan mas Rafi ini sudah mulai suka dengan lawan jenis. Inilah dinamika anak-anak di eklas atas. Pernah suatu hari ia memberikan coklat kepada anak putri, tapi melalui temannya karena ia tidak berani. Pernah juga meminta temannya menggambar dua anak putra putri yang saling suka dan diberi nama teman sekelasnya.
    Saya diskusikan hal ini dengan ustd Nanda, hasilnya adalah akan diadakan tes psikologi untuk mas Rafi. Kemudian saya home visit ke rumahnya. Lucunya ketika saya menanyakan mas Rafi di mana. Ibunya bilang nggak ada di kamar, mungkin ke tempat simbahnya. Nggak sengaja mata saya melihat bayangan di balik tirai jendela kamar seperti ada bayangn. Saya bilang ke Ibunya. E… ternyata waktu dilihat di kamar mas Rafi sembunyi di balik pintu, kemudian mengintipku lewat tirai jendela. Lucu sekali memang anak ini Saya jadi ingat waktu dulu homevisit di rumah muridku Didin namanya. Selama saya di rumahnya kurang lebih satu jam. Didin sembunyi di dalam lemari baju dengan membawa senter. Kemudian Ibunya banyak bercerita mengenai mas Rafi yang belum berani tidur sendiri, ke kamar mandi sendiri bahkan sholat sendiri. Mau tidur di kamarnya sendiri asal ada TV dan banyak hal lainnya.
    Akhirnya kita sepakati beberapa hal yang akan kita lakukan. Pada intinya kita menargetkan SIP nya dulu bukan akademiknya. Terutama sholat 5 waktunya dan BTAQ nya. Dibuatlah muthabaah khusus untuk mas Rafi. Dan dicarikan ust untuk mengajar BTAQ tambahan ( dengan ust Imam). Hasi tes psikologi sudah ada maka diadakanlah konsultasi dengan kedua orangtuanya. Di sinilah yang paling susah, untuk menentukan waktu pertemuannya.
    Dari ketiga anak ini dan orangtuanya saya belajar banyak hal.
    1.       Orang tua sangat memanjakan anaknya dengan memberikan semua keinginannya tanpa syarat atau perjuangan sebelumnya dengan alasan kasihan teman-temannya juga sudah punya.
    2.       Orangtua langsung percaya cerita dari anaknya tanpa mencari kebenarannya, padahal kadang anak berbohong  pada orangtuanya untuk mencari posisi aman
    3.       Kedua orangtua kerjasama dalam mendidik anak, karena pendidikan anak adalah tanggungjawab kedua orangtua bukan hanya tanggung jawab Ibu saja
    4.       Dengan homevisit saya mendapatkan lebih banyak informasi tentang siswa, sehingga saya bisa lebih memahaminya.




    Guru Pembelajar


    Oleh : Laila Rohmawati
    Guru, salah satu profesi yang sebagian banyak orang menjadi pilihan cita-cita. Ada berbagai motivasi bagi seseorang memilih bercita-cita menjadi guru seperti ingin beramal jariyah, karena suka dengan anak-anak, dan lain sebagainya. Apapun motivasi seseorang menjadi guru maka dia harus mempunyai kemampuan mendidik dan mengajar. Kemampuan mendidik dan mengajar itu tidak mudah, perlu dipelajari dan dipahami secara terus menerus.
    Menjadi guru sudah menjadi keinginan saya sejak tahun 2010, setelah lulus dari SMA, saya langsung melanjutkan studi kuliah di UII mengambil Jurusan Pendidikan Agama Islam di Fakultas Ilmu Agama Islam. Keinginan menjadi guru muncul karena saya berpikir bahwa menjadi guru itu menjadi amal jariyah bagi anak didik. Alhamdulillah, sebulan setelah lulus dari Universitas, saya mencoba mendaftar menjadi guru di SD IT Alam Nurul Islam. Sebelum mendaftar di SD IT Alam Nurul Islam saya pernah menjadi guru pramuka di berbagai sekolah dasar. Untuk pengalaman mengajar memang saya akui belum begitu banyak walapun sewaktu kuliah berbagai praktek mengajar saya lakukan.
    Tahun 2015, sebulan setelah wisuda saya diterima guru di Nurul Islam setelah melakukan beberapa seleksi. Tahun pertama mengajar penuh dengan tantangan. Sekolah yang berciri khas alam ini menunjukan perbedaan dengan sekolah dasar yang lain. Sekolah dasar pada umumnya mempunyai ruang kelas yang tertutup, ada jam-jam tertentu untuk masuk kelas dan istirahat, namun berbeda sekali dengan Nurul Islam. Kondisi ruangan yang terbuka, aktivitas anak yang sangat aktif dan lain sebagainya. 3 bulan pertama saya merasa kewalahan mengajar di Nurul Islam dengan segala aktivitas, kemudian 3 bulan berikutnya saya merasa ingin menyerah di Nurul islam. Beberapa hari saya diminta oleh partner kelas untuk mengkomunikasikan kepada Kepala Sekolah terkait keadaan yang saya alami. Namun saya mengurungkan diri, dan berpikir kembali bahwa saya tidak akan menyerah menjadi guru di Nurul Islam. 1 semester menjadi pengalaman yang tidak pernah saya lupakan, karena di saat itu saya sendiri sedang melawan rasa menyerah menjadi guru.
    Setahun berlalu, saya mulai menikmati menjadi di Nurul Islam dengan segala pembelajaran dan kegiatan. Saya semakin mulai memahami karakter anak-anak, mulai mengerti dengan perlakuan apa yang harus diberikan bila anak didik melakukan kesalahan dan lain sebagainya. Benar bila ada pepatah yang menyampaikan bahwa pengalaman adalah guru yang sangat berharga karena dengan pengalaman setahun itu saya bisa menjadi lebih baik dalam mengajar anak-anak. Teori-teori yang dulu saya pelajari sewaktu kuliah hanya sedikit yang saya praktekkan ketika mengajar. Justru ketika mengajar langsung saya semakin banyak belajar tentunya belajar dari guru yang lain dan dari anak-anak.
    Tahun ini tahun keempat saya di Nurul islam. Tahun pertama saya mendapat amanah mengajar di kelas 2, tahun kedua saya mendapat amanah lagi di kelas 2, tahun ketiga saya mendapat amanah di kelas 3 dan tahun keempat  ini saya mendapat amanah mengajar di kelas 1. Sewaktu mendapat amanah mengajar di kelas 1 saya senang karena mereka masih baru di Nurul Islam jadi akan lebih mudah mendidiknya. Pertemuan awal dengan anak-anak kelas 1 membuat saya harus mengenal 28 anak dengan karakteristik yang berbeda. Ada anak yang setiap harinya usil dengan teman-temannya, ada yang suka bertanya, ada yang susah diberitahu dan lain-lain. Memang pada tahun sebelum-sebelumnya saya sudah menemui berbagai karakter anak yang berbeda maka dari itu dari pengalaman sebelumnya saya bisa mengatasi anak-anak di kelas 1.
    Mendidik dan mengajar di kelas 1 itu sebenarnya sangat menyenangkan. Selain mereka masih lucu-lucu karena baru lulus dari TK, mereka juga masih baru di SD sehingga menanamkan aturan sangat mudah. Dari ilmu mendidik yang pernah saya pelajari untuk kelas 1 sangat penting untuk menanamkan kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada Rasul dan kecintaan terhadap Adab. Anak-anak yang di didik seperti itu maka ia akn menjadi pribadi yang sholih. Pribadi yang ketika besar tidak hanya cerdas pikiran tetapi juga cerdas dalam menjaga adab. Seorang guru pasti mempunyai keinginan bahwa anak didiknya ketika tumbuh besar menjadi anak didik yang menjunjung tinggi adab, yang berakhlak mulia, yang kepintarannya tidak membuatnya sombong justru kepintarannya dapat menjadi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
    Guru, profesi yang menuntutnya harus terus belajar. Ya, memang dan harus seorang guru itu terus belajar, belajar dan belajar. Melalui media apapun, mau itu seminar, workshop, membaca buku, membaca referensi internet dan lain sebagainya karena yang namanya guru itu pasti akan bertemu dengan karakter anak yang berbeda. Apalagi bila mengajar di Nurul Islam yang setiap tahunnya guru di rolling untuk mengajar kelas yang berbeda dari tahun sebelumnya.
    Tahun ini saya pun masih belajar, belajar menjadi guru yang lebih baik lagi. Tidak hanya dengan teori, dengan pengalaman tetapi juga menghadirkan hati. Hati yang lembut, yang mendidik dengan kasih saying karena nasihat yang baik lahir dari hati yang tulus maka akan sampai pada anak didik, pun sebaliknya hati yang keras tidak akan sampai nasihatnya kepada anak didik. Semoga dengan terus belajar membuat kita semakin lebih baik dalam mendidik anak-anak. Aamiin.



    Outbound Perkuat Karakter Siswa


    Penulis : Jauharotul Farida, S.Pd.Si



    Sudah sejak kemarin dapat pesan dari salah satu wali murid, jika anaknya mogok tidak mau ikut outbound. Kita sebut saja siswa R. Alasannya seperti kebanyakan siswa kelas satu yaitu takut. Dua kali kegiatan outbound, siswa R ini memang selalu menangis. Outbound pertama di bulan Agustus, permainan high impactnya adalah panjat dinding. Saat itu adalah pengalaman pertama semua kelas satu SDIT Alam Nurul Islam mengenal outbound di sekolah. Siswa naik dinding dengan memakai alat pengaman. Saat itu siswa R belum terlihat mau nangis dan masih enjoy. Satu panjatan batu di dinding berhasil dilalui, dan .... huaaaaaa, meledaklah tangisnya saat diminta naik ke panjatan batu yang kedua. Awalnya pelan tangisnya, lama kelamaan semakin keras dan ketakutan. Mamanya dipanggil panggil. Akhirnya permainan itu diselesaikannya, meskipun setelah dibantu instruktur sedemikian rupa. Menangis? Ya jelas tambah keras ... tapi dia jadi tahu bahwa pantang menyerah jika sudah naik. Outbound kedua bulan September, high impactnya adalah turun tebing. Siswa R ini lagi lagi menangis keras. Kali ini lebih keras nangisnya, karena harus turun menggunakan tali dari ketinggian tertentu. Hal yang sama terulang seperti outbound pertama yaitu menangis dan memanggil mamanya. Instrukturnya harus menunggu lama dan membujuk sedemikian rupa. Akhirnya mau tidak mau diturunkan paksa dengan pengamanan tertentu, meskipun tetap saja menangis. Dan kemarin muncullah pesan dari mamanya, bahwa anaknya mogok ikut outbound. Bukan masalah jatuh atau terluka, tapi ketakutan menghadapi permainanlah yang membuatnya enggan berangkat. Nyalinya masih belum muncul dan ketakutan dari rumah masih mendominasi. Saat mamanya menyampaikan pesan tersebut, saya mencoba memberi motivasi bahwa besok outboundnya menyenangkan yaitu berenang di sungai. Siswa R ini  mulai berbinar matanya mendengar kata berenang. Akhirnya hari outbound ketiga (bulan Oktober) pun tiba. Siswa R sudah mau berangkat. Saat instruktur menyampaikan bahwa permainan outboundnya adalah ke sungai, ia  mulai tambah percaya diri. Dia mau mengikuti permainan low impact (karapan sapi) dan fun game (sarung beralih) dengan baik. Bahkan mau ditunjuk jadi pemimpin.
    Beda lagi kasusnya dengan siswa kelas 1c juga, kita sebut saja Princess. Pertama kali mengikuti outbound Princess dihadapkan pada permainan high impact panjat dinding. Ketakutan luar biasa membuatnya menangis dan ngambek tidak mau ikut outbound lagi. Saya pikir, pasti di outbound kedua nanti juga sama. Princess akan nangis dan takut. Ternyata kenyataannya berbalik 180 derajat. Tidak ada lagi tangisan dan ketakutan. Princess terlihat selalu tersenyum, berani, dan enjoy saat mengikuti permainan high impact yaitu turun tebing. Begitupun di outbound yang ketiga, Princess mampu bergelayutan di ban bekas yang digantung di bawah jembatan. Katanya ke saya, “aku sudah nggak nangis lagi kan ust?” wah anak hebat. Mampu menaklukkan ketakutannya sendiri. Setelah saya telusuri, ternyata dia tidak mau dikatakan cengeng oleh teman temannya. Pengalaman pertama saat mencoba panjat dinding, ada teman yang mengatainya cengeng. Akhirnya di outbound yang kedua dia buktikan jika dia tidak cengeng. Disamping itu, bentuk permainan outbound yang menyenangkan membuatnya suka dan enjoy hingga akhir kegiatan.
    Pengalaman selama 8 tahun saya mengajar di SDIT Alam Nurul Islam, outbound adalah kegiatan rutin yang harus diikuti oleh semua siswa. Mulai dari kelas satu hingga ke kelas selanjutnya. Kelas satu adalah level kelas yang kebanyakan siswanya masih awam dengan kegiatan outbound. Tak jarang dijumpai siswa kelas 1 yang takut, menangis, dan belum mandiri. Baju ganti harus sering diingatkan untuk diberi nama supaya tidak tertukar, memakai baju pun harus sering didampingi karena beberapa anak masih belum bisa pakai sendiri, begitu juga saat semua selesai mandi, para guru harus menyisir barang apa saja yang tertinggal dan mencari pemiliknya. Alhamdulillah melihat mereka di kelas 6, semua itu sudah berubah. Siswa yang penakut di kelas satu sudah jadi pemberani sekarang. Siswa yang dulu cengeng sudah tidak mudah nangisan lagi. Siswa yang suka teledor dengan barang barangnya sudah tampak rapi dan telaten dengan barang miliknya sendiri. alhamdulillah
    Seperti halnya kakak kelasnya yang sekarang sudah lulus, kita sebut saja mas V. Ia termasuk siswa yang mudah menangis dan takut mengikuti kegiatan outbound. Tapi seiring berlalunya waktu dan keharusan mengikuti outbound di level kelas selanjutnya, ternyata kenyataannya berbeda. Mas V bukan lagi anak yang cengeng, tapi berubah menjadi anak yang pemberani dan tidak pantang menyerah.   
    Begitu juga kakak kelas lainnya, kita sebut saja mas B. Dulu di kelas satu, mas B ini terkenal anak yang tidak mau pisah dengan mamanya saat diantar ke sekolah. Hampir satu semester dia selalu ditunggui mamanya di pagi hari. Outbound jarang mau ikut. Alasannya takut. Di semester kedua mulai mau ditinggal mamanya, meskipun dengan acara perpisahan sedemikian rupa. Barulah mau masuk ke kelas setelah mama tak terlihat lagi di kejauhan. Alhamdulillah kegiatan outbound sudah mau ikut. Meskipun awalnya cuma nonton.  Teman dekatnya mas B saat itu adalah mas H. Dua anak ini punya tipe yang berbeda sebenarnya, tapi klop satu sama lain. Awalnya sama sama tidak mau outbound. Lama kelamaan mereka mencoba dan suka. 
    Dalam satu kegiatan outbound, ada 4 kegiatan yaitu fun game, low impact, high impact, dan kepanduan. Fun game adalah kegiatan pra outbound untuk memecah ketegangan dan membuat siswa enjoy memasuki permainan outbound selanjutnya. Jika fun gamenya menyenangkan bagi siswa maka siswa akan enjoy untuk kegiatan selanjutnya. Di kegiatan ini memupuk kerjasama/team work, konsentrasi, memahami perintah, dan lain sebagainya.
    beberapa contoh fun game yang sudah dilakukan adalah permainan guru berkata. Dalam permainan ini siswa diminta untuk melakukan perintah asalkan ada “embel-embel” kata di depannya “guru berkata – silakan lakukan ....berikut”. nah barulah siswa melakukannya. Jika tidak ada “embel-embel” kata di depannya “guru berkata ....” maka siswa tidak boleh melakukan sesuatu atau diam saja. jika bergerak maka dapat coretan. Banyak siswa yang masih belum konsentrasi  dalam hal ini. Setelah melalui beberapa tahapan akhirnya yang kena coretan semakin berkurang. banyak siswa yang beberapa kali terkena coretan di pipi oleh instruktur. Disamping masih suka ngobrol sendiri, juga kadang belum memahami perintah dengan baik.
    Fun game lainnya yang pernah dilakukan yaitu permainan sarung beralih. Permainan ini melatih kerjasama tim, ketangkasan dan pantang menyerah. Siswa diminta untuk membentuk lingkaran besar dan saling bergandengan tangan tidak boleh putus. Ada satu sarung yang ditaruh disalah satu siswa. Sarung ini harus dapat berpindah/beralih dari satu siswa ke siswa lainnya dan tidak boleh putus pegangan tangannya. Ada juga siswa yang termasuk lama dalam memindahkan sarung ini ke temannya. Sarung malah terkesan muter muter aja di tubuhnya. Teman temannya geregetan karena waktu hampir habis. Akhirnya siswa ini pun dapat menyelesaikannya dengan tuntas. Alhamdulillah
    Outbound yang meyenangkan akan diikuti oleh siswa dengan enjoy pula. Karakter siswa juga sedikit demi sedikit terbentuk dan semakin kuat. Yang awalnya takut jadi pemberani. Yang awalnya belum tangkas jadi trengginas. Yang awalnya belum mandiri jadi mandiri. Memang itulah harapan kita semua. Siswa terbentuk karakternya melalui outbound yang menyenangkan