Random Post

Musibah Berbuah Hikmah (Catatan Outing Kelas 4 ke Pantai Sodong dan Gunung Selok Cilacap)

Siapapun pasti tak ada yang mau bertemu dengan musibah. Bahkan dengan iming-iming imbalan setimpal pun. Tapi, begitu ditakdirkan oleh Allah bertemu dengan musibah, maka kewajiban kita adalah meningkatkan keimanan. Memahami bahwa musibah itu adalah hakekat ujian yang dianugerahkan Allah sebagai media untuk meningkatnya keimanan. Bagi yang lulus pasti meningkat. Yang gagal, kita mohon ampun Allah untuk terhindar darinya. Para nabi dan rasul adalah golongan piihan Allah yang selalu diuji dengan kesulitan dalam hidupnya. Dan satupun kita belum pernah mendengar kegagalan ujian selama hidupnya. Catatan kegiatan ini dibuat sebagai bentuk informasi untuk bisa dipahami siapa saja. Lebih lagi, ditujukan sebagai sarana untuk mengambil pembelajaran dibalik sebuah peristiwa, terkhusus lagi musibah. 
Sekolah Alam Nurul Islam melalui Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) Regio DIY-Jateng mendapatkan tugas perawatan tanaman langka di gunung Selok Adipala Cilacap. Program ini merupakan kerjasama antara JSAN Regio DIY-Jateng, Pertamina Foundation Cilacap dan BKSDA Cilacap. Setiap bulan satu Sekolah Alam anggota JSAN Regio DIY-Jateng mendapatkan jadwal tugas perawatan. Jadwal Sekolah Alam Nurul Islam jatuh di bulan Mei 2018 ini. Tugas perawatan meliputi mengecek kondisi tanaman langka yang berjumlah 130an tanaman. Mengukur ketinggian, mengganti plang nama serta melaporkan kerusakan yang terjadi. Siswa yang ditunjuk untuk menjalankan tugas tersebut adalah kelas 4. Semua ada 72 siswa.
Kegiatan outing ini terlaksana dengan kerjasama sekolah dengan orang tua melalui Dewan Kelas 4. Mulai dari persiapan, penyiapan akomodasi dan perlengkapan dilakukan bersama sekolah melalui guru kelas dan orang tua siswa. Bahkan dalam pelaksanaan ini perwakilan orang tua turut serta mendampingi siswa. Setiap kelas ada 3 perwakilan orang tua. Total ada 9 orang tua perwakilan. Rombongan peserta berangkat dari sekolah hari Selasa, 8 Mei 2018 jam 00. Harapannya sampai di lokasi menjelang waktu Subuh. Sesuai rencana, para peserta langsung menuju pantai Sodong untuk menyongsong matahari terbit. Kebetulan lokasi pantai Sodong ada di bawah gunung Selok. Dari pantai Sodong menuju lokasi perawatan tanaman di gunung Selok akan ditempuh dengan tracking, berjalan kaki.
Sesuai rencana. Rombongan sampai di pantai Sodong pukul 04.00. Setelah bersih diri di kamar mandi dan wudhu, semua peserta berjalan menuju di tepi pantai. Di tepi pantai memanfaatkan waktu menjelang adzan Subuh berkumandang, secara berjama'ah para siswa melaksanakan sholat Tahajud dan Witir. Sebentar kemudian, adzan berkumandang. Setelah sholat Subuh dilaksanakan, ustadz Bintara menyampaikan tausyiah singkat. Semua siswa diajak untuk mentafakuri alam yang terbentang di depannya. Bintang gemintang yang jelas bercahaya di kegelapan malam. Bintang yang berfungsi sebagai penghias langit, penunjuk arah dan pelempar setan seperti yang Allah dalam surah Al Mulk ayat 5. Air laut yang berlimpah Allah ibaratkan sebagai ilmu-Nya yang bandingan dengan ilmunya manusia seperti air laut dan tetesan terakhir ujung jari yang dicelupkan kemudian ditarik dari air laut. Laut ini juga merupakan makhluk Allah, yang bisa diperintahkan sesuai kehendak-Nya. "Bahkan bisa diperintah untuk menggulung kita yang sedang duduk di tepi pantai ini", kata ustadz Bintara.
Pagi mulai menerang. Kegiatan dilanjutkan dengan bersih pantai. Setiap anak dalam kelompok diharuskan mengumpulkan sampah terutama berbahan plastik yang dikumpulkan di dalam satu kresek besar. Setiap sisi pantai disisir untuk dibersihkan dari sampah. 
Selesai bersih pantai, para siswa menginginkan untuk bermain air laut. Ustadz Bintara mengingatkan batas maksimal yang boleh basah adalah lutut. Berulang peringatan tersebut disampaikan ke anak-anak. Melihat ombak yang besar muncul kekhawatiran jika terlalu asyik bermain menjadi hilangnya waspada akan datangnya gelombang laut. Ditambah lagi, ustadz Bintara baru saja mendapatkan informasi jika baru saja ada pengunjung yang tenggelam dan belum ditemukan. Rasa khawatir makin bertambah sehingga muncul usaha untuk memindahkan main air ke lokasi yang lebih aman.
Di sebelah barat pantai terdapat perairan yang sangat dangkal semata kaki. Ditambah lokasi tersebut sangat jauh dari bibir pantai laut lepas. Membuat keputusan untuk bermain air yang aman semakin mantap. Berpindahlah semua anak ke lokasi kemudian bermain air. Dikarenakan lokasi yang dianggap aman, rasa kekhawatiran para guru dan orang tua yang mendampingi mulai berkurang. Waktu makin berjalan. Terjadi perubahan pada debit air. Gelombang air laut yang masuk ke lokasi ini makin meningkat. Hal ini yang kurang disadari anak-anak dan para guru serta orang tua. Arus air semakin mengencang, beberapa anak mulai minggir. Tapi beberapa anak justru memanfaatkan arus tersebut untuk berenang. 
Inilah awal musibah terjadi. Rupanya lokasi yang dipakai untuk bermain ini merupakan muara. Pertemuan antara sungai dan laut. Sehingga kondisi pasirnya labil. Awalnya memang ketinggian air pendek sekali. Apalagi waktu pagi adalah saat pasang air laut terjadi. Sewaktu arus laut lepas mulai masuk ke muara dengan arus yang cukup deras, pasir yang ada di dasar muara ikut terbawa. Sehingga jika dipijak akan lepas dan menjadi dalam. Ditambah arus yang besar membawa benda yang ada diatasnya hanyut. Kondisi inilah yang terjadi. Ada 8 anak laki-laki yang terbawa ke tengah muara. Mereka mulai menyadari bahaya saat menapakkan kaki ke dasar muara sudah menjadi dalam. Mereka mulai berteriak minta tolong. Melihat anak yang minta tolong, ustadz dan orang tua menyeru anak untuk minggir naik ke daratan. Ustadz Bintara dan ustadz Gusdul segera masuk ke muara menolong anak yang minta tolong. Keduanya tidak menyadari jika dasar muara menjadi dalam karena pasir terbawa arus laut. Ustadz Bintara dengan masih membawa megaphone di tangan kiri dan HP di tangan kanan tiba-tiba juga tenggelam. Begitu juga ustadz Gusdul. Keduanya sambil mengambang menuju ke salah satu anak yang sudah kepayahan berenang. Pak Ikhsan yang kebetulan merupakan anggota PMI dengan sigapnya masuk ke muara berenang cepat menuju ke 8 anak yang tenggelam. Alhamdulillah satu per satu anak bisa dijangkau dan selamat. Bu Amalia, bu Nanik dan ustadz Udin juga berenang ke muara tapi karena arus sudah terlalu besar, ketiganya balik arah ke daratan. Kini tinggal ustadz Bintara dan ustadz Gusdul yang masih berusaha keras untuk tetap berenang meski arus membawanya menuju ke arah laut lepas. Usaha minta tolong dilakukan. Membangunkan para nelayan untuk pinjam perahunya. Nampak nelayan sendiri tidak berani untuk langsung masuk ke muara. Hanya satu nelayan yang langsung menyusul untuk menyelamatkan ustadz Bintara dan ustadz Gusdul. Di ujung barat daya nampak para pemancing yang berada di atas bebatuan juga sedang mencari cara untuk menolong kedua ustadz. Suasana mencekam masih meliputi karena pergerakan kedua ustadz sudah makin mendekat ke laut lepas. Mu'jizat Allah, ustadz Gusdul bisa menjangkau batu besar di bawah para pemancing. Dengan badan yang masih lemas tertelungkup di atas batu besar. Kini tinggal ustadz Bintara yang masih berjuang hidup melawan arus laut. Nampak muncul tenggelam dari permukaan laut. Nelayan belum juga berdatangan. Yang di daratan hanya mampu berdoa keras mohon pertolongan kepada Allah dengan tangan ke atas untuk selamatkan ustadz Bintara. Subhanalloh, ustadz Bintara berhasil menepi ke bebatuan. Rupanya ustadz Bintara ditarik dengan sebuah mata pancing yang dilemparkan pemancing. Selamatlah seluruh yang hanyut. Kami bersyukur tiada henti kepada Allah.

Setelah semua korban hanyut selamat, baru datanglah perahu nelayan untuk menjemput para korban. Semua anak dalam kondisi sehat meski masih panik, beberapa menangis haru karena karena syukur bisa diselamatkan. Kondisi ustadz Gusdul sudah tak berdaya. Sehingga harus digotong menuju perahu. Pertanyaan pertama yang terucap "Gimana pak, Aqil selamat kan?" Ustadz Bintara masih bisa jalan meski harus dituntun. Megaphone dan dompetnya hilang. Semua diangkut perahu menuju daratan. Beberapa masih diliputi haru dan berucap sudah pasrah jika Allah akan mengambil nyawanya saat hanyut. 
 
Ustadz Gusdul, Bintara dan satu siswa, mas Aqil segera dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Dalam perjalanan menuju Puskesmas, kami ditemani oleh 2 nelayan. Selama perjalanan nelayan menyampaikan kekagumannya pada mental para anak yang hanyut. "Mentalnya anak-anak itu bagus benar pak, karena itulah yang menyebabkan mereka selamat. Kalau anak lainnya mungkin sudah gak tertolong mas" kata seorang nelayan. "Meski secanggih apapun kemampuan renangnya, kalo mentalnya gak ada ya pasti tenggelam juga mas" timpal nelayan satunya. Kami justru ditunjukkan betapa pembelajaran mengalami dan secara outdoor selama inilah yang membentuk mental mereka. Ustadz Bintara dan mas Aqil segera diperbolehkan pulang. Sedangkan ustadz Gusdul harus dirawat dahuluselama 2 jam. Sebenarnya ustadz Bintara belum cukup fit untuk aktivitas, namun ia memaksa untuk kembali ke rombongan melanjutkan kegiatan ke gunung Selok. Rencana semula tracking dibatalkan, seluruh siswa naik ke gunung Selok bersama dengan angkutan bis mereka.

Meski baru saja ada kejadian yang membuat hati anak-anak khawatir, namun tidak menghalangi mereka meneruskan kegiatan perawatan tanaman di gunung Selok. Di lokasi, anak-anak secara berkelompok ditugasi untuk merawat tanaman yang berjumlah 130an. Tanaman merupakan tanamana langka endemik Cilacap. Lokasi penanaman sepanjang pinggir jalan di bawah Vihara. Perawatan meliputi pencatatan nama tanaman, kondisi, plang nama. Sebelum dilakukan, mereka diberi pengarahan dahulu oleh petugas setempat. Untuk tanaman yang sudah mati dilakukan penggantian dengan tanaman yang baru. Rata-rata ketinggian tanaman dari 50 cm hingga 170an cm. Beberapa ada yang layu dengan daun kehitaman. Mayoritas tumbuh dengan baik.
Selesai perawatan, setelah sholat Dhuhur, ustadz Bintara menyampaikan pemaknaan terhadap apa yang baru saja dialami bersama. Musibah di muara Sodong dan ketentuan takdir Allah. Kepasrahan tawakal kepada Allah yang muncul di saat menghadapi sakaratul maut. Dzikir ma'tsurat yang harus dilantunkan dengan penuh kesungguhan. Karena ia menjadi tameng perlindungan Allah atas segala musibah. Ustadz Bintara mengingatkan akan kultumnya di pagi hari. Akan makhluk Allah berupa air laut yang baru saja menghanyutkan mereka. Allah masih sayang tidak memanggilnya saat bermain-main. Artinya Allah ingin kita berpengakhiran yang baik, husnul Khotimah. Ini sungguh pelajaran yang banyak didapat. Untuk menjadi lebih baik lagi. Untuk meningkatkan keimanan.
Tugas berikutnya adalah bagaimana menginformasikan kejadian musibah ini kepada para orang tua dan pimpinan sekolah. Untuk kejelasan dan kelurusan informasi, disepakati bahwa jalur komunikasi berasal satu orang. Pak Iwan Santosa perwakilan orang tua dari kelas 4B ditunjuk sebagai yang bertugas. Beliau akan menginformasikan kronologi kejadian kepada orang tua sebelum rombongan tiba di sekolah. Sehingga jika akan konfirmasi bisa langsung ke satu sumber. Untuk melengkapi informasi akan dilakukan pertemuan semua orang tua siswa kelas 4. Sekaligus pihak sekolah menyampaikan pernyataannya di depan para orang tua. Alhamdulillah pertemuan sudah terlaksana pada hari Jum'at, 11 Mei 2018. Semua orang tua merasa bersyukur, informasi bisa terkonfirmasi. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga betapa kerjasama guru, orang tua, sekolah sangatlah penting dalam proses pembelajaran. 
Share on Google Plus

About Sekolah Alam Jogja

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: