Dari Talk Show Bersama Ust. Fauzhil Adhim

» » Dari Talk Show Bersama Ust. Fauzhil Adhim

Adalah sebuah kerancuan manakala kecerdasan emosi itu disebut sebagai EQ, Emotional Quotient. Satuan ukur yang pasti. Padahal kecerdasan emosi seseorang tidak bisa diukur satuan pastinya. Jadi lebih tepatnya, Emotional Intelegence (EI). Jika IQ diibaratkan dengan kendaraan, maka EI adalah pengmudinya. IQ bisa dibentuk dari bayi lahir hingga Usberhenti di usia 12 tahun. Setelah 12 tahun, sel otak sudah tidak bisa berkembang lagi, hanya isinya saja yang bisa ditambah. Maka menjadi suatu keharusan untuk mempersiapkan otak anak sedini mungkin sejak bayi. Sedangkan kecerdasan emosi bisa optimal terasah dengan pembelajaran yang bersifat afektif.

sekolah alam

Menurut ust. Fauzhil Adhim, tes-tes seperti THB itu bukanlah alat yang tepat untuk mengetahui kompetensi siswa. Sistem rangking lebih tepatnya bukan dengan membandingkan anak per anak, namun membandingkan satu anak diantara hasil pembelajaran bidang studi. Sehingga kemampuan dominan anak bisa diketahui. Yang menjadi penting dalam perkembangan anak dalam pembelajarannya adalah bagaimana


membentuk kebiasaan belajar. Kebiasaan berpikir matematis, bukan menghafal rumus. Kebiasaan berpikir ilmiah bukannya menghafal fakta-fakta sains. Kebiasaan untuk memiliki sense sosial, bukannya sekedar hafal teori-teori sosial.


sekolah alam


 

Share

You may also like

1 komentar

Tri mengatakan...

Assalamu alaikum wrwb.

Salam kenal buat seluruh Guru ustad dan ustazah di SDIT Alam Nurul Islam.
berkenaan dengan apa yang telah dikatakan oleh ust.Fauzhil Adhim dalam talk show tersebut sungguh saya sangat tertarik dan banyak ingin bertanya...
saya berharap bisa dijawab oleh pihak SDIT Alam Nurul Islam, ada hal yang saya belum mengerti yakni:
1. Yang menjadi penting dalam perkembangan anak dalam pembelajarannya adalah bagaimana membentuk kebiasaan belajar. Kebiasaan berpikir matematis, bukan menghafal rumus
2. Kebiasaan berpikir ilmiah bukannya menghafal fakta-fakta sains.
3. Kebiasaan untuk memiliki sense sosial, bukannya sekedar hafal teori-teori sosial.
Mohon deberi penjelasan dari ketiga point ini, dan bagaimana cara yang mesti dilakukan untuk mewujudkannya?

terimakasih atas jawabannya
tri. guru SDIT Al-Insyiroh Makassar
-------------------------------------------------------------------------------------------
Admin :
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Kami akan coba menjawab. Bahwa yang paling penting di perkembangan anak dalam pembelajarannya adalah menanamkan tradisi sadar belajar. Menanamkan bahwa belajar itu asyik. Belajar di sini menyangkut bagaimana kesukaan anak dalam membaca (salah satu buku tulisan Ust. Fauzhil :"Bagaimana mengajarkan anak gila membaca) sebagai alat untuk mencari pengetahuan, rasa ingin tahu yang besar sebagai energi untuk suka meneliti, serta cita-cita jauh kedepan, disini anak dibiasakan membangun fantasi.
Kondisi pendidikan kita saat ini lebh dominan mengejar supaya anak paham materi pembelajaran, seperti rumus-rumus, dsb. yang kesemuanya menjadi hafalan semata. Kosep dasar ilmu yang dipelajari malah tidak terpahami.
Kita bisa menegok pola pembelajaran di Amerika/Eropa. Di tingkat pendidikan dasarnya lebih ditekankan pada penguasaan konsep dasar ilmu pengetahuan. Ketrampilan-ketrampilan seperti berhitung, menyelesaikan soal dsb, jarang dilakukan. Akan nampak terlihat hasilnya, mengapa yang sering menang olimpiade sains/matematika kebanyakan orang asia (cina dan indonesia), jarang orang amerika/eropa. Tapi begitu di tingkat perguruan tingginya, mereka lihai dalam meneliti.