Latepost : Seminar Parenting Bersama Ustadz Harry Santosa

» » » Latepost : Seminar Parenting Bersama Ustadz Harry Santosa

Hari Sabtu 10 November 2018 bertepatan dengan hari Pahlawan, diadakan Seminar Parenting yang menghadirkan narasumber nasional. Beliau adalah Ustadz Harry Santosa yang populer dengan konsep Pendidikan Berbasis Fitrah (Fitrah Based Education/FBE). Kegiatan ini berlangsung di auditorium 2 Universitas PGRI Yogyakarta. Seluruh orang tua siswa SDIT Alam Nurul Islam diundang gratis hadir. Peserta dari luar SDIT Alam juga hadir. Acara ini diselenggarakan dengan format Zerowaste, seluruh peserta diminta membawa wadah snack dan air minumnya sendiri. Untuk meminimalisir sampah. 

Berikut resume materinya : 
Tempatkan Setiap Anak Kita sebagai "Leader" di Setiap Bidang Kehidupan
Konon pada tahun 2015, para pakar dan pemikir bangsa Israel berkumpul di New York (bukan di Tel Aviv) untuk menghadiri sebuah perhelatan besar konferensi yang bertujuan membuat "grand design" arsitekur peradaban bangsa ini beberapa dekade ke depan.
New York dipilih mengingat inilah tempat bersejarah kedua yang menjadi titik awal kebangkitan bangsa Israel sebelum negara Israel raya berdiri dengan menjajah Palestina.
Barangkali jarang yang tahu bahwa nama pertama New York adalah New Yerusalem atau New Amsterdam. Ini kota kedua sebagai pusat kebangkitan Israel setelah berpindah dari Amsterdam yang dulu juga bernama New Yerusalem.
Konferensi bangsa Israel ini melahirkan berbagai keputusan penting dan protokoler bangsa Yahudi setebal beberapa ribu halaman. Namun intinya adalah bangsa Israel membuat misi peradaban bahwa harus ada seorang putera bangsa Israel yang menjadi pakar sekaligus pemimpin yang menjadi rujukan dunia pada setiap bidang dalam kehidupan.
Yang menarik adalah bahwa konferensi ini ditutup dengan pidato seorang sepuh bangsa Israel, yang di akhir pidatonya mengutip sebuah quote dari filsuf Israel yang hidup di abad 1 Masehi bernama Hilar, yaitu
If I am not for me, who will be me 
If i am for me, who am i 
If not now, when?

(Jika saya bukan untuk saya, siapa yang akan menjadi saya
Jika saya untuk saya, lalu siapa saya
Jika tidak sekarang, lalu kapan?)

Quote ini sederhana, namun menggambarkan keinginan dan keseriusan besar bangsa mereka untuk leading pada setiap bidang kehidupan dengan mendorong tiap orang Israel untuk menemukan takdir peran peradaban dirinya untuk menguasai dunia.
Keseriusan ini bahkan tergambar dalam bidang kehidupan yang paling sederhana sekalipun, sebagai contoh, pemeran film Wonder Woman, adalah seorang perempuan pelatif Kraf Maga (beladiri khas Israel) pada tentara Israel.
Bayangkan, dalam bidang beladiri saja mereka ingin leading dan ingin menjadi teladan. Kraf Maga ini banyak digunakan sebagai andalan para petarung MMA (Mix Martial Art) di ajang dunia tarung bebas.
Tulisan ini bukan bermaksud SARA atau anti semit atau membenci ras bangsa Israel, namun kita dapat belajar betapa seriusnya mereka untuk fokus pada potensi kekuatan mereka sendiri dengan mendorong bangsanya agar setiap dari mereka menemukan peran peradaban dan leading pada setiap bidang kehidupan tersebut sehingga menjadi rujukan dunia.
Refleksi
Kita bisa berefleski kepada peradaban Islam sendiri, bagaimana peradaban kita hari ini? Apa yang bangsa Israel lakukan di atas sesungguhnya sedang membangun arsitektur peradabannya.
Mereka meniru konsep alQuran bahwa setiap muslim harus memiliki daurul hadhoriyah (peran peradaban) dan menjadi teladan pada bidangnya masing masing sekecil apapun.
Peran peradaban personal seorang muslim adalah bashiro wa nadziro yaitu banyak memberi kabar gembira (solution maker) dan peringatan (problem solving) lalu harus rahmatan lil alamin yaitu menebar manfaat besar bagi manusia.
Kemudian, secara kolektif, peran peran personal ini akan membawa Ummat kepada peran komunal yaitu khoiru ummah (the best model community) dan ummatan wasathon (the best collaborator) bagi ummat manusia.
Untuk sampai kepada mengantarkan generasi peradaban anak anak kita kepada peran peradaban terbaiknya pada setiap bidang kehidupan agar menjadi khoiru ummah dan ummatan wasathon, sebagaimana yang Allah kehendaki itu harus diawali dengan model pendidikan peradaban yang mampu melakukan hal demikian.
Namun sayangnya, benak kebanyakan ummat Islam tentang pendidikan adalah hanya mengantarkan generasi pada pandai akademis dan pandai agama, bukan peran peradaban. Mindset pandai akademis inilah sesungguhnya yang membuat peradaban Islam menjadi mandul peran peradaban.
Kita banyak menemukan lembaga lembaga pendidikan Muslim maupun Orangtua Muslim yang masih berorientasi agar anaknya bagus di akademis dan atau bagus di agama, misalnya hampir seragam ingin punya anak yang lulus UN dengan nilai tinggi dan hafal banyak juz alQuran, lalu ujungnya agar bisa diterima di perguruan tinggi bergengsi dan bekerja di tempat "basah".
Nampaknya tiada yang salah ketika berobsesi anak pandai akademis dan pandai agama lalu sekolah setinggi tingginya di kampus bergengsi dan akhirnya bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar sehingga zakat dan infaqnya besar.
Sesungguhnya Islam tak melarang manusia untuk kaya, berkuasa, terkenal dstnya, namun Islam melarang menjadikan dunia sebagai orientasinya walau dikemas dalam kemasan agama "agar banyak infaqnya". Itu namanya hubbuddunya dan menjadikan agama sebagai bungkus ambisi dunianya.
Bayangkan apa jadinya, andai semua Muslim menjadikan dunia sebagai orientasinya? Mengantarkan anak anak kita yang cerdas dan hafizh itu untuk menjadi kuli kuli peradaban, bukan peran peran peradaban terbaik pada setiap bidang kehidupan? Tentu menjadi khoiru ummah hanya isapan jempol dan mimpi di siang bolong.
Hari ini generasi muda muslim kebanyakan selesai sekolah dan kuliah, hadir di masyarakat, menjadi orang yang mati (meminjam istilah Buya Hamka), tanpa peran peradaban. Mereka melayang layamg menjajakan kepandaian akademis dan kepandaian agama untuk mencari nafkah dan menjadi kuli peradaban bangsa lain.
Indonesia konon punya 600 Doktor Tafsir, namun tak satupun berminat bikin tafsir. Sejak Indonesia merdeka, kita hanya punya 2 tafsir kontemporer, yaitu AlAzhar (Hamka) dan alMisbah (Quraish Shihab). Kita punya banyak hafizh namun sedikit yang berminat jadi guru Quran apalagi ahli Quran dsbnya. Lembaga pengembangan SDM Muslim yang merekrut banyak pemuda pandai untuk diberi bea siswa dengan dana ummat, namun ujungnya hampir semuanya diserap perusahaan konglomerat.
Ini terjadi karena orientasi pendidikan kita tak berorientasi peradaban dengan mengantarkan anak anak kita kepada peran peradaban terbaiknya dan menjadikan mereka sebagai rujukan dunia pada bidang itu.
Lima tahun lalu, seorang ibu yang jadi rujukan banyak orang, menulis status di sosmed sbb
"....alhamdulillah anak saya yang hafizh alQuran sekarang sudah tamat dari PTN,
.......mohon doanya agar segera diterima bekerja"

Bisa dibayangkan peradaban Islam 10-20 tahun ke depan jika mindset setiap ibu demikian.

Share

  • This is the most recent post.

You may also like

Tidak ada komentar