Fathering by Doing

» » Fathering by Doing

Belajar yang paling efektif adalah yang dilakukan dengan merasakan langsung. Learning by doing. Dialami langsung. Experiential learning. Karena belajar itu bukan semata soal hafal. Bukan semata soal paham. Tapi belajar itu adalah juga soal bisa. Mampu. Menguasai. Terampil. Dan ahli.
Begitu juga dalam belajar menjadi orang tua. Sampai detik ini belum ada lembaga di Indonesia yang memastikan bahwa setiap pasangan itu layak dijamin menjadi orang tua yang baik. Bahkan ia bertitel hingga doktor pun. Bahkan ia bergelar gus langitan pun. Mendapatkan kemampuan menjadi orang tua, fathering ya setelah menikah. Setelah mempunyai anak. Setelah berbagai masalah dengan pernak-perniknya bermunculan. Orang tua yang sukses adalah yang bisa mengelola setiap masalah yang timbul akibat berkeluarga. Sukses dalam mengelola komunikasi. Sukses dalam mengelola konflik. Dan yang paling penting, jelas misinya dan konsisten mengawal hingga berjalannya waktu.
Realita di negeri ini, banyak keluarga yang kehadiran peran ayah sangat kurang. Psikolog dan pakar pemerhati anak, Elly Risman, M. Psi, mengatakan bahwa "Negara ini hampir negara tanpa ayah". Menurutnya di antara maraknya kasus anak-anak dan remaja yang bermasalah di negara ini salah satunya karena hilangnya figur ayah dalam rumahnya. Kemudian Elly juga mengungkap, salah seorang rekannya yang pernah menyusun tesis S2 mengenai peran ayah dan kaitannya dengan keberanian anak melakukan seks bebas, menunjukkan, ayah yang tidak hadir dalam keluarga maka anak laki-lakinya akan menjadi nakal, agresif, terjerat narkoba, dan seks bebas.
Sementara anak perempuannya akan menjadi depresi dan terjerumus seks bebas. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan otak.
"Seandainya ayah tahu kehadiran mereka dalam pengasuhan anak signifikan, ayah tidak akan melakukan itu. Apalagi dampak era digital, jika hanya mengandalkan ibu, rusak semuanya," kata Elly lagi.
Saat ini, lanjut Elly, Indonesia tengah menghadapi bencana kerusakan otak karena pornografi, narkoba, dan minuman keras. Pengaruh ini sudah masuk terlalu dalam dan hanya menunggu bom meledak saja.
Karena itu, tugas utama ayah adalah sebagai kepala sekolah yang mewujudkan apa yang diajarkan dalam agama. Menjadikan anak takut dengan Tuhan, bahwa Tuhan itu nyata. Selanjutnya anak akan mengikuti, ayah hanya tinggal mengawal, bukan hanya mencari nafkah tapi juga mendidik.
Selain itu, juga sempatkan untuk bercanda dan berdialog. Jangan lupa untuk melakukan itu semua dengan cinta dan kasih sayang.

Nah, menjadi ayah tak cukup hanya dengan seminar atau kajian. Tapi, ya harus dilakukan. Dicoba. Diobrolkan. Dieksperimen. Untuk temukan gaya ayah yang pas bagi anak-anaknya.

Share

  • This is the most recent post.

You may also like

Tidak ada komentar