Jambore Diary

» » » » Jambore Diary

Kamis, 11 Juli 2008


Akhirnya jadi berangkat pagi ini. Jam 06.00 di pagi buta, seluruh peserta hadir diantarkan orang tua mereka masing-masing. Untuk melepas keberangkatan menuju Jambore. Seperti mau pergi kemana gitu? Naik Haji? Atau ke luar negeri? Ust. Hamdan selaku kepala sekolah yang baru memberikan taujih kepada ke-24 peserta berikut 4 pembina. Kita harus tetap menyandang pribadi yang menjadi misi dari sekolah kita. Sebagai hamba yang sholih harus selalu tunduk terhadap aturan dan adab dimanapun dan kondisi apapun. Sebagai ilmuwan, selalu sensitif untuk meneliti setiap fenomena yang ditemui selama perjalanan. Sebagai pemimpin, selalu siap diatur dan mengatur dalam aktivitas tim. Sebagai wirausaha, selalu berpikir untuk menggali potensi nilai ekonomi di setiap hal yang ditemui.





Jam 07.00 rombongan berangkat menggunakan bus ‘tanggung’ isi 30 penumpang. Setiap anak terlihat fit untuk melalui perjalanan panjang selama 12 jam, “Allohumma safarina hadzaa . . .” Bus mengambil jalur selatan menggunakan jalan Deandels. Jalan peninggalan Deandels, seorang Inggris yang menjabat gubernur semasa pendudukan Inggris di Indonesia.



Di sepanjang jalan ditemui berbagai macam tanaman sayuran. Dari kejauhan terlihat pantai laut selatan yang tertutupi dengan pepohonan. Jalur selatan ini rupanya sedang diperlebar, sehingga ada beberapa jalan yang belum utuh.



Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh beberapa orang menjual jasanya untuk mengatur jalan. Tentu dengan membawa topi atau kaleng untuk meminta imbalan uang atas jasanya itu. “Wah pungli ini namanya” kata ust. Udin.



“He liat, banyak sekali ya kuburan disini” salah seorang anak menyeru. Memang, di sepanjang jalan Deandels akan kita temui beberapa deret kuburan yang terletak di bagian tengah ladang. Melihat jarak antar kuburan, sepertinya satu kuburan diperuntukkan untuk satu kampung. Tak berapa lama, mas Syahrul kambuh HIVnya, Hasrat Ingin Vivis. Yah, memacu pak sopir untuk segera mendapatkan POM bensin atau masjid untuk menunaikan hajat BAK. Eh, rupanya menular juga ke yang lain. Jadilah, BAK satu tumbuh seribu.



Dari jalur selatan ternyata perjalanan berbelok menuju jalur utara, Pantura. Sewaktu melewati Brebes, tiba-tiba arus lalu-lintas macet di depan terlihat banyak orang berkumpul. Mulanya dikira tabrakan, eh ternyata ada hiburan dangdut tarling, putar-keliling. Kami semua heran, belum pernah melihat hiburan yang seheboh ini di Jogja.



Dari Brebes, menuju Tegal. Lanjut ke Cirebon. Sampe di Subang, kami berhenti untuk sholat dan makan malam. Menunya terlihat aneh bagi kami orang Jogja. Ayamnya sih sama, sambelnya juga. Cuma lalapannya itu lho, masak terong buat lalapan. Yang benar saja. Trus, air tehnya juga hambar. Lidah Jogja kan terbiasa manis-manis ~apalagi orangnya~ ya bagaimana lagi, tetap diminum lha wong udah dipesan. Yang gak mau ganti minum air putih aja.



Jakarta masih sekitar 100 kiloan meter lagi. Setelah makan malam, bikin mata berat dan tidur. Yang masih kuat melek, ngobrol apapun yang bisa diobrolin. Tepat jam 22, kami tiba di bumi perkemahan Cibubur. Setelah mendapat petunjuk dari penjaga pos langsung menuju arena perkemahan. Eh, rupanya sudah banyak peserta yang sudah hadir. Terlihat beberapa peserta mondar-mandir, ada yang jalan-jalan, beli maupun jajan makan. Kami berhenti dan menurunkan seluruh barang di dekat areal yang ternyata merupakan lapangan utama. Surprise-nya lagi ust. Jamal udah di belakang bus. Ust. Udin langsung ditunjukkan tempat sekretariatnya. Anak-anak menunggu sambil tiduran di lapangan.



Setelah masing-masing regu mendapatkan kapling tenda. Regu putra di kecamatan Enerjik, kelurahan Sultan Hasanudin RW. 20. Regu putri mendapat wilayah di kecamatan Mandiri, kelurahan Rasuna Said. Rasanya ingin segera beristirahat. Setelah menata sana-sini, jam 00 baru kami bisa beristrahat.


Jum’at 12 Juli 2008



Hawa Jakarta sangat beda dengan Jogja. Malamnya tidak terasa begitu dingin. Makanya mandi jam 4 pagi juga berani. Setelah mandi, langsung wudlu dan sholat qiyamullail sendiri-sendiri. Begitu selesai sholat Shubuh berjama’ah, diteruskan dengan dzikir ma’tsurat bersama. Hingga mentari pagi menyingsing. Sarapan pagi dibuka. Minum susu hangat, snack pengganjal perut sebagai bekal upacara pembukaan.



Seluruh peserta berangkat menuju lapangan utama, kabupaten jendral Sudirman. Di sana barisan dibentuk seperti huruf U. Yang membuat lama adalah pake acara gladi bersih segala. Tapi kok pak Hidayat Nurwahid gak ada, yah dikiranya beneran. Matahari semakin memanas, bosan sudah menjangkiti peserta, apalagi peserta SDIT. Tapi muncul semangat manakala pak Hidayat Nurwahid tiba bersama ketua Kwartir Nasional kak Azrul. Surprise-nya lagi, ada deklarasi bergabungnya Pandu SIT menjadi Pramuka SIT. O,makanya ada Kwarnas juga yang hadir. Trus harus pake tambahan asesoris berupa setangen leher merah-putih n tepuk pramuka. Selesai upacara setiap regu berdevile di depan panggung kehormatan.




Kegiatan awal adalah mega outbound untuk putra dan kunjungan ke Mabes Brimob untuk yang putri. Mega outbound terdiri dari meniti bambu dan 2 tali, jaring pendarat dan flying fox. Dikarenakan alat terbatas sedangkan peserta banyak, akhirnya mengalami penungguan yang sangat lama. Dari mulai jam 13 harus berakhir hingga jam 17.




Malam harinya ada acara nonton film bareng. Dikiranya yang diputar film terbaru tak tahunya malah film lama. Film Nagabonar yang lama. Ditambah lagi salah putar, pertama malah CD kedua dulu yang diputar, pas ditengah diganti dengan CD yang pertama. Saking lamanya pemutaran, beberapa anak dikarenakan lelah di aktivitas siangnya banyak yang pada tidur di padang rumput. Intinya, anak-anak kurang puas.


Sabtu, 12 Juli 2008



Di hari Sabtu, pagi hari ada senam Nusantara. Apa itu ? Senam yang musiknya berasal dari daerah ujung barat Indonesia hingga ujung timur. Gerakannya pun mirip-mirip aerobic. Instrukturnya langsung oleh yang buat senam itu, kak Jarwo. Katanya sih atlit nasional yang dapat medali perak di PON Kalimantan.



Setelah sarapan pagi, agendanya adalah lomba widegame. Berupa Baris Berbaris, Tali temali dan Pertolongan Pertama Pada Musibah/P3M. Setiap regu berkumpul di tiap kecamatan. Regu putra berkumpul di lapangan kecamatan Hasanudin. Disana telah menunggu regu-regu lain untuk lomba. Ada beberapa materi yang jauh berbeda dengan kisi-kisi yang disampaikan di juknis lomba. Ya, jadinya anak-anak merasa cukup kelabakan. Tapi, alhamdulillah mampu melewati tiap bagian lomba meski belum berhasil meraih juara.



Siang harinya setelah makan siang berlanjut dengan kunjungan. Gantian. Yang putra kunjungan ke Markas Brimob sedangkan yang putri menjalani mega outbound. Untuk menuju ke Brimob dijemput dengan truk Brimob. Seluruhnya ada sekitar 20an truk dan bus. Itupun belum menampung semua anak sehingga terjadi desak-desakan penumpang. Jauhnya perjalanan menyebabkan datangnya kantuk. Meski dengan berdesak bisa saja anak-anak menikmati tidur di atas laju truk. Sampai, di Brimob kami dikumpulkan di lapangan yang super luas. Pas di depan gedung Brimob. Teriknya matahari, membuat dahaga kerongkongan. Minuman dingin terjual laris manis diserbu para peserta yang menderita dahaga.







Kami diberi kesempatan untuk melihat dekat bahkan boleh pegang setiap peralatan yang digunakan pasukan Brimob. Dari penjinak bom hingga alat selam. Robot penjinak bom menjadi daya tarik peserta. Eh, rupanya ada kamera kecil di atas robot tersebut sehingga operatornya bisa mengendalikan robot dengan lihai. Ada juga alat selam, baju tahan bakar serta kita berkesempatan membawa senapan M16. Wah kelihatan keren berpose dengan senapan otomatis ini. Kendaraan khusus pun digelar untuk dilihat. Boleh naik lagi sambil foto. Sewaktu masuk gedung, ada sebuah alat pendeteksi logam. Jika kita membawa logam dan lewat di alat itu akan mengeluarkan bunyi. Petugas akan curiga seseorang membawa benda asing. Kunjungan di Brimob diakhiri dengan demonstrasi mobil water canon dengan semprotan air kearah peserta. Itung-itung mandi sore. Seluruh peserta bersorak sewaktu air tersemprot. Rupanya, operatornya bukan anggota Brimob. Tapi anggota pandu dari Malaysia. Sempat terjadi insiden kecil, arah semprot terarah terlalu bawah sehingga semprotannya sangat kuat mengena salah seorang peserta. Sehingga jatuh, dahinya tergores konblok lapangan. Sedikit mengeluarkan darah, sehingga harus dilarikan ke ruang pemeriksaan.



Malam harinya, pentas seni. Regu SDIT Alam Nurul Islam sebenarnya sudah menyiapkan pertunjukan spesial untuk pentas seni. Yaitu sebuah film pendek dengan judul Pandu The Movie. Disebabkan pihak panitia yang tidak bisa menyiapkan perlengkapan untuk memutarnya sehingga cita-cita kami untuk menampilkan karya film yang hanya jadi sehari itu menjadi kandas. Yach, tergores sedikit kekecewaan. Diantara kekecewaan temen-temen kami yang datang dari jauh luar pulau Jawa yang sudah menyiapkan pentas dengan berbagai perlengkapan harus batal hanya sebab alokasi waktu yang kurang.


Ahad, 13 Juli 2008




Di awal sebelum fajar muncul, seluruh peserta dibangunkan untuk melaksanakan sholat tahajud. Berkumpul di tanah lapang dengan jumlah peserta mencapai 4000 orang. Seperti sholat Ied saja. Kata panitia, kita telah memecahkan rekor dengan melakukan sholat tahajud dengan jumlah peserta mencapai 4000 orang. Alhamdulillah . . .




Pagi ini seluruh rangkaian jambore akan berakhir. Penutupan diakhiri dengan konser nasyid oleh Justice Voice dan Ruhul Jadid. Anak-anak pada seneng penampilan Justice Voice, meski gak pake alat musik tapi dengan mulut terdengar mirip sekali. Gayanya seperti pake alat musik. Mereka membawakan nasyid Happy Days, Rumus Canggih dan Jangan Mepet-mepet. Begitu penampilan Justice Voice selesai, kami langsung cabut diri karena sebelum pulang kami mau mampir dulu di TMII.




Bayangan kami di TMII mau mampir di beberapa anjungan. Melihat waktu dan dana akhirnya cukup satu anjungan yang kami masuki. Di anjungan Iptek, yang dekat dengan taman burung. Bayangkan, satu anjungan saja tiket masuknya Rp. 15.000,00 per orang. Mau minta diskon minimal harus 40 orang. Di sana ada banyak hal yang menarik untuk pembelajaran, khususnya Sains. Pertama, kita mengamati berbagai bentuk putaran. Roda kecil, besar serta bentuk sambungan putar. Lha pas melihat sambungan putar sempat terjadi insiden. Mas Ahim dengan rasa ingin tahunya yang tinggi ingin menyentuh bentuk sambungan putar. Bersamaan dengan itu salah satu teman lain mencoba memutarnya, akibatnya tangan mas Ahim tergencet. Berdarah, mengiris ujung telunjuk tangan kanannya. Segera dibawa ke ruang P3K dan diobati disana.



Dari bentuk eksperimen Sains dasar hingga penerapan dalam teknologi ada di Iptek. Bentuk energi, cahaya, magnet, pesawat sederhana semua ada di sini. Jika ingin mencoba semuanya butuh lebih dari sehari di anjungan Iptek ini. Dhuhur tiba, kita segera sholat di lantai paling atas anjungan. Anak-anak tertarik pada cinderamata helixtime, pengukur waktu yang terbuat dari berbagai bahan. Ada yang dari pasir, seperti jam pasir. Ada yang dari air raksa. Bentuknya pun macam-macam. Rata-rata seharga Rp. 25.000,00.




Setelah semua puas, perjalanan pulang pun berlanjut. Kami pulang mengambil jalur selatan. Melewati Tol Cikampek, Bandung, Garut, Ciamis, sampai Brebes. Letihnya kami, sehingga selama perjalanan banyak yang tidur. Sehingga pas di Jatilawang sekitar jam 22 kami berhenti untuk sholat maghrib-isya sekaligus makan malam. Rencananya untuk beli oleh-oleh kami akan berhenti di pusat oleh-oleh di daerah Banyumas. Tapi, semua terlelap. Bangun-bangun sudah sampai Jogja, jadi kandaslah rencana untuk membeli oleh-oleh. Cukup CD Jambore dan helixtime-lah yang menjadi oleh-oleh dari Cibubur. Sekaligus foto dan video. Alhamdulillah, kami bias tiba di SDIT Alam Nurul Islam tercinta pukul 02.30. Dengan sehat dan tetap semangat. Semangat seorang Pandu yang kini berganti nama menjadi Pramuka SIT. Allohu Akbar !!

Share

You may also like

Tidak ada komentar