Random Post

Finding Neverland

Seluruh tema pembelajaran selesailah sudah. Yang terakhir adalah tema Tanah. Untuk memperdalam pembelajaran tentang tanah seperti biasa ada Outing Time ! Dipilih obyek Bebeng Kaliadem. Tepatnya berada di kaki gunung Merapi. Di Bebeng kita akan lihat bekas-bekas letusan Merapi tahun 2006. Tidak ketinggalan, kita akan liat juga bunker, tempat perlindungan letusan Merapi. Tapi bunker itu di letusan terakhir 2006 tidak berfungsi baik. Ada 3 korban meninggal saat berlindung di dalamnya.

Ini dia bunkernya. Karena ruangannya di dalam tanah, sehingga untuk masuk harus turun dulu

Beginilah suasana di dalam bunker. Meski anak-anak tahu kalo di dalamnya ada 3 korban meninggal, ternyata keingintahuan mengalahkan ketakutannya. Di dalam bunker dengan luas 7 x 10 meter denga atap bebentuk melengkung. Setelah letusan Merapi, bunker ini tertutup lahar panas. Bahkan ada yang masuk. Terlihat adanya banyak lapisan pasir di dalam bunker bekas lahar yang sudah mendingin. Setelah puas mengamati bunker, perjalanan lanjut untuk menemukan gua Jepang.Sebelum melakukan perjalanan yang cukup jauh, berpose dulu di atas lava yang kini sudah menjai lapisan batu dan pasir.



Disana banyak ibu-ibu yang kerjaannya mencari rumput untuk dijual. Mereka mencari di tempat-tempat yang tinggi kemudian diusung ke bawah. Karena rumput di lereng Merapi kualitasnya baik sekali.

Perjalanan berlanjut dengan menyeberangi kali Bebeng. Kali ini dulunya juga dilewati lahar panas. Lihat saja bekas alirannya yang kini sudah menjadi batu dan pasir.

Masuklah ke dalam hutan. Rupanya disini tidak tampak ada bekas -bekas lahar yang menerjang. Terlihat tetumbuhan yang menghijau. Selama perjalanan setiap siswa harus disiplin. Jalan satu-satu. Serta selalu menunggu saat barisan paling belakang tertinggal.

Subhanalloh. Betapa hijau dan sejuknya pemandangan di dalam hutan. Di kanan-kiri terdengar bunyi kicauan burung.

Saatnya jalan curam. Semua berjalan harus penuh kewaspadaan. Dengan jalan selebar dua kaki dan di samping adalah jurang yang curam sekali. Menuruni jurang jalan itu berkelok kanan dan kiri.

Lihat betapa tingginya jurang. Sempat ragu untuk mengurungkan niat. Tapi keingintahuan mengalahkan kekhawatiran. Seluruh siswa diharuskan berjalan merapat ke dinding.

Alhamdulillah, sampailah ke dasar jurang. Tapi perjalanan masih berlanjut. Karena gua Jepang memang letaknya sangat tersembunyi. Di area itu ada 3 goa. Dua gua berdekatan terletak dalam sebuah ceruk bukit. Satunya lagi masuk mengikuti aliran sungai.

Kita akan menuju gua yang di ujung aliran sungai. Kebetulan sungainya tidak ada aliran air. Meski ada beberapa bekas genangan yang tertinggal.

Eureka !! Ini dia guanya.  Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dan mencengangkan terobati dengan penemuan ini. Wah pose dulu ah !

Di depan gua terdapat air terjun. Dulunya sengaja dibuat dekat dengan sumber air. Sehingga kebutuhan akan air jadi terjamin. Sengaja kita gak masuk gua. Takut kalo ada hewan berbisanya. Atau gas beracun, karena sudah lama sekali gak dihuni manusia. Apalagi jarang orang yang merambah sekitar situ.

Merayakan penemuan dengan mengguyur diri dengan air. Ufh . . . dingin sekali.

Istirahat dulu, sambil mengisi energi untuk perjalanan pulang. Sambil menikmati suasana alam yang masih hijau dengan bunyi-bunyi burung serta serangga. Enak ya kalo menyatu dengan alam.

Alhamdulillah, penemuan gua Jepang kali ini membawa pengalaman yang tak terlupakan. "Baru kali ini outing yang paling menengangkan" komentar anak-anak.
Share on Google Plus

About Sekolah Alam Jogja

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment