Random Post

Khotmil Qur'an dan Imtihan Qiroaty Ke-6

Patut selayaknya mengungkapkan kesyukuran kepada Allah SWT, hari Ahad, 22 Mei 2016 Alhamdulillah, SDIT Alam Nurul Islam bisa melaksanakan kegiatan Khotmil Qur'an dan Imtihan metode Qiroaty yang ke-6. Yang mana di tahun yang lalu, 2015, acara tersebut tidak bisa dilaksanakan dikarenakan dinamika pelaksanaan pembelajaran baca tulis qur'an sehingga siswa yang sedianya menjalani ujian akhir baca qur'an tidak bisa dilaksanakan. Untuk kesempatan kali ini, dari siswa yang mengikuti ujian Ebtaq Qiroaty, berhasil lulus 22 siswa yang kemudian menjalani kegiatan Imtihan atau uji publik baca qur'an.
 Kegiatan Khotmil dan Imtihan ini adalah bentuk tanggung jawab lembaga atas pelaksanaan kegiatan pembelajaran Qur'an dengan menggunakan metode Qiroaty. Setelah siswa-siswa yang sudah selesai menempuh ketuntasan jilid, mereka diuji melalui kegiatan Ebaq, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Imtihan untuk uji publik. Demikian sambutan kepala sekolah
 Dari perkembangan ketuntasan, dari awal mengalami perkembangan secara kuantitas. Pernah di awal-awal siswa yang lulus Ebtaq dan mengikuti Imtihan hanya 2 anak. Alhamdulillah sekarang meningkat signifikan, tentu dengan dukungan sekolah, guru dan orang tua. Di awal banyak yang merasakan metode Qiroaty ini sangat sulit, namun dengan ketekunan dan pengembangan metode akhirnya semakin banyak siswa yang lulus. Targetnya, siswa kelas 4 nantinya sudah bisa lulus semua sehingga bisa mendukung kegiatan tahfidh secara mandiri. 
 Kegiatan Khotmil ini diawali dengan prosesi khataman, siswa membacakan surah dari Adh-Dhuha hingga An-Naas. Para tamu undangan bisa menyimak, meski tidak begitu mendalami ilmu Qur'an, cukup dengan mendegarkan akan bisa mengetahui perbedaan bacaan yang dilantunkan. Setelah itu, para siswa menunjukkan pembelajaran Gharib. Yaitu cara membaca ayat di beberapa tempat Al Qur'an yang mempunyai hukum bacaan secara khusus. Setiap ayat yang dibaca, siswa menguraikan hukum bacaan yang terdapat pada ayat tersebut serta disebutkan ayat, surah dan juznya.
Setelah prosesi khataman, dilanjutkan dengan kegiatan Imtihan. Para hadirin dipersilahkan untuk memberikan pertanyaan terkait dengan bacaan Qur'an. Mereka bisa memilih siswa perorangan ataupun semua peserta. Meski dengan sedikit grogi karena sedang diuji oleh hadirin, alhamdulillah semua peserta mampu menjawab dengan cekatan hukum bacaan serta bacaan yang benar pada ayat yang dipilih oleh para hadirin. Bukan hanya peserta saja yang deg-degan, hadirin terutama orang tua peserta ikut berdebar juga.
 Setelah prosesi Imtihan selesai, dilanjutkan dengan penyerahan syahadah atau sertifikat Qiroaty, sebagai tanda sudah lulus pembelajaran Qur'an Qiroaty. Tapi meski sudah lulus, kewajiban untuk selalu mengulang-ulang bacaan harus terus dilakukan. Seperti yang ditausyiahkan ustadz Fadhlan Abu Yasir, Lc yang memberikan motivasi kepada para hadirin tentang Qur'an. Pernah para shohabat diherankan oleh pernyataan Rasulullah SAW. Bahwa Ahlul Qur'an merupakan keluarga Allah. Allah mempunyai kelurga? Ya seperti pada hadits berikut :
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)
Simak penjelasan Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah– berikut:“Yang dimaksud ahlul qur’an  bukan orang yang sekedar menghafal dan membacanya saja. Ahlul qur’an (sejati) adalah yang mengamalkannya, meskipun ia belum hafal Qur’an. Orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an; menjalankan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak melanggar batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, mereka itulah yang dimaksud ahlul qur’an, keluarga Allah serta orang-orang pilihannya Allah. Merekalah hamba Allah yang paling istimewa.
Adapun orang yang hafal Al-Qur’an, membaguskan bacaan Qur’an nya, membaca setiap hurufnya dengan baik. Namun jika ia menyepelekan batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, ia bukan termasuk dari ahlul qur’an. Tidak pula termasuk dari orang-orang khususnya Allah.
Jadi ahlul qur’an adalah orang yang berpedoman dengan Al-Qur’an (dalam gerak-gerik kehidupannya), ia tidak menjadikan selain Al-Qur’an sebagai panutan. Mereka mengambil fiqih, hukum-hukum dari Al-Qur’an, serta menjadikannya sebagai pedoman dalam beragama..”.
 Sebagai bentuk pernghormatan Allah kepada orang yang membaguskan dan berusaha belajar Qur'an dengan benar, Allah janjikan malaikat akan selalu membersamainya. Malaikat akan selalu membisikkan kebaikan, melindungi dari marabahaya. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dalam haditsnya : Orang yang pandai membaca Al-Qur’an (tartil) akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim). Bahkan orang yang selalu disibukkan dengan Al-Qur'an lebih diistimewakan oleh Allah dibandingkan orang yang selalu orang yang selalu berdzikir dan berdoa. Seperti sabda Rasulullah SAW :

عَن اَبٍي سَعيدٍ رَضَي اللٌهُ عَنهٌ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلٌى اللٌه عَلَيهٍ وَسَلٌمَ يَقُولُ الرَبُ تَبَاَركَ وَتَعَالى مَن شَغَلَهُ الُقرُانُ عَن ذَكرِي وَمَسْئلَتيِ اَعطَيتُه اَفضَلَ مَا اُعطِي السْاَئِلينً وَفَضلُ كَلآمِ اللٌه عَلى سَائِرِ الكَلآمِ كَفَضلِ اللٌه عَلى خَلقِه (رواه الترمذي والدارمي والبيهقي في الشعب ).
Dari Abu Sa’id r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Allah berfirman, ‘barang siapa yang disibukan oleh al Qur’an daripada berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku dan keutamaan kalam Allah diatas seluruh perkataan adalah seumpama keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (Hr. Tirmidzi, DArami, dan Baihaqi)
 Bagi yang sudah mahir membaca Qur'an secara tartil, kewajiban selanjutnya adalah bagaimana menjaganya. Karena membaca itu merupakan ketrampilan yang selalu senantiasa diasah. Belajar Qur'an yang benar harus dengan metode talaqqi, bertatap muka langsung dengan guru. Dikarenakan bagaimana membunyikan setiap huruf dan bacaan harus dipandu dan diluruskan dengan baik. Bahkan pernah suatu waktu ada seorang ustadz yang sudah 'terkenal' namun setelah diuji bacaannya banyak sekali kesalahannya. Sehingga ustadz tersebut harus mengoreksi bacaanya kepada seorang syaikh. Dan terus bacaan qur'an tersebut harus terus dijaga dengan selalu mengeceknya kepada seorang guru Qur'an. Para shohabat juga dicek bacaannya dihadapan Rasul. Rasul pun juga setiap tahun dicek bacaan Qur'annya di depan malaikat Jibril.
Semoga mereka menjadi generasi Qur'an yang akan selalu bersama Qur'an di setiap saat. Menjadi keluarga Qur'an dan menginspirasi yang lain untuk lebih mencintai dan bersama Al Qur'an.

Share on Google Plus

About Sekolah Alam Jogja

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: