Untuk mengasah kemampuan dalam mengajar dan mendidik anak-anak, guru-guru SDIT Alam mengadakan klub untuk salaing berbagi ilmu dan pengalaman dalam metode penyampaian materi pembelajaran di kelas. Ada 2 klub, klub guru Eksak dan Non Eksak. Untuk Klub Eksak materi bahasan terkhusus pada mata pelajaran Matematika dan IPA. Sedangkan klub non-eksask membahas mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPS. Klub ini terbentuk memang keinginan dari guru-guru untuk lebih memantapkan skill dengan sharing terutama dengan guru senior yang lebih kaya pengalaman. Untuk klub Eksak, pekan ini memasuki pekan ke-3 dalam pembahasan Matematika. Yang paling penting untuk disadari bahwa Matematika merupakan mata pelajaran khusus. Artinya, setiap jenjang berkelanjutan ke jenjang selanjutnya. Dan satu Jenjang harus dipenuhi pra-syaratnya di jenjang sebelumnya. Sebagai contoh, untuk konsep Perkalian harus mantap dulu konsep Penjumlahan. Tanpa bisa Penjumlahan, Perkalian akan sulit dipahami. Atau, Konsep Perpangkatan akan sangat mengharuskan kemantapan konsep Perkalian. Tanpa Perkalian, Perpangkatan akan sulit dipahami.

Dalam metode penyampaian pembelajaran Matematika juga ada tahapnya. Anak tidak bisa langsung diminta mengerjakan soal tanpa harus paham konsep. Ada 4 tahap penyampaian Matematika.

a. Apersepsi, yaitu berupa pengkondisian awal. Ice Breaking. Merupakan penyampaian sebuah kasus atau cerita yang di dalamnya mengandung konsep yang akan disampaikan. Misal, konsep Pengurangan bisa disampaiakn kisah tentang sebuah kasus kehilangan. Kisah pun sebisa mungkin dekat dengan anak. Tidak terlalu mengkhayal yang justru membuat anak butuh energi untuk memahami. Di akhir kisah, dilontarkan persoalan. Tanyakan siapa yang bisa memecahkan. Untuk kemudian masuk ke materi.

b. Penanaman Konsep, Nah disini sudah masuk penjelasan tentang konsep yang harus dipahami siswa. Pada tahap ini WAJIB hukumnya menggunakan Alat Peraga. Karena Matematika hakekatnya adalah sebuah bahasa. Bahasa hitung. Artinya sebuah kasus bisa disingkat dengan notasi Matematika. Artinya, jika langsung masuk ke bahasa Matematika tanpa menggunakan instrumen yang ada di kehidupan nyata anak akan terputus pemahaman dengan realita. Misalnya, untuk memahamkan konsep Penambahan, sebelum menggunakan angka harus memakai benda di sekitar mereka. Kerikil atau permen. Setelah mahir menghitung, baru dibawa dalam bahasa angka dan matematika.

c. Latihan Ketrampilan, setelah anak mantap dengan konsep baru diberi contoh sebuah soal. Pastikan anak menyelesaikan dengan benar. Variasikan bentuk soal. Pastikan anak makin mantap dengan berbagai bentuk soal.

d. Pembinaan Ketrampilan, Di tahap ini anak baru diberi banyak soal sebagai bentuk pembinaan ketrampilan. Misal, untuk membina trampil Perkalian bisa diberi 'Sarapan Perkalian' setiap hari dengan batas waktu tertentu. Kemudian soal divariasi. Selanjutnya batas waktu semakin dikurangi, hingga anak benar-benar hafal di luar kepala.

Selain metode penyampaian, dibahas juga permasalahan terkait bagaiamana kiat menangani siswa yang males, lemah hitung bahakan takut dengan Matematika. Oke . . . slamat ya ustadz-ustadzah makin jago dengan jurus-jurus baru. Ini nih cuplikan kegiatan klub Eksask.





[youtube http://www.youtube.com/watch?v=zRyxVFOnc-U?rel=0&w=420&h=315]

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=yiUSUUrzWMo?rel=0&w=420&h=315]

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=saI5_EgOK1o?rel=0&w=420&h=315]

0 komentar:

 
Sekolah Alam Nurul Islam © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top